Iklan paling atas
Advertisement
Iklan 970 x 250
Header
Menu utama
Menu kedua
Iklan melayang kiri dan kanan (layar lebar)
Iklan 160 x 600
Iklan 160 x 600
Iklan bawah menu
Advertisement
Iklan 970 x 250
Beranda: Headline dan Rekomendasi
 
 
Konten utama

Dibuka Wamenpar, Munas PUTRI 2026 Tetapkan Hans Manangsang Kembali Pimpin PUTRI dan Dorong Wellness Tourism Berbasis Budaya Nusantara

November 07, 2026
A Penulis: Tim Redaksi | Editor: Redaksi
Dibuka Wamenpar, Munas PUTRI 2026 Tetapkan Hans Manangsang Kembali Pimpin PUTRI dan Dorong Wellness Tourism Berbasis Budaya Nusantara

Yogyakarta, - Wisata tidak lagi cukup menawarkan tempat untuk dikunjungi. Pengalaman yang membuat orang ingin tinggal lebih lama, kembali berkunjung, sekaligus mengenal kekayaan budaya setempat menjadi bagian penting dari masa depan pariwisata.

Gagasan itu mengemuka dalam Musyawarah Nasional (Munas) Dewan Pimpinan Pusat Perhimpunan Usaha Taman Rekreasi Indonesia (DPP PUTRI) 2026 di Loman Park Hotel, Yogyakarta, 5–7 November 2026. Forum tersebut kembali menetapkan Hans Manangsang sebagai Ketua Umum DPP PUTRI periode 2026–2031, sekaligus mendorong pengembangan wellness tourism berbasis budaya Nusantara.

Baca Juga : GKR Bendara Kembali Pimpin PUTRI DIY hingga 2030

Yogyakarta Jadi Ruang Konsolidasi Industri Wisata

Merujuk laman resmi PUTRI, Munas yang diselenggarakan bersama DPD PUTRI DIY sebagai tuan rumah itu mengusung tema “Sinergi Wellness dan Pariwisata untuk Kebangkitan Ekonomi Nasional”.

Menurut siaran pers Kementerian Pariwisata, pada Jumat, 6 November 2026, Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa membuka secara resmi kegiatan tersebut. Dalam sambutannya, ia mengingatkan pelaku industri agar tidak hanya berorientasi mendatangkan wisatawan, tetapi juga menciptakan pengalaman yang membuat pengunjung ingin kembali.

Semakin lama wisatawan tinggal dan semakin sering berkunjung, semakin besar pula peluang usaha lokal memperoleh manfaat ekonomi.

[caption id="attachment_27651" align="aligncenter" width="1200"] Foto : Istimewa[/caption]

Ni Luh juga mengingatkan bahwa industri pariwisata perlu terus berinovasi mengikuti perubahan perilaku wisatawan, termasuk perkembangan teknologi digital.

Ia mencontohkan fenomena fear of missing out (FOMO), ketika sebuah destinasi cepat populer di ruang digital, tetapi juga berpotensi cepat ditinggalkan saat muncul tren baru.

Karena itu, pelaku usaha taman rekreasi didorong mengembangkan produk wisata yang memiliki daya tarik berkelanjutan, bukan sekadar mengikuti popularitas sesaat.

Wellness Tourism Berakar pada Budaya Nusantara

Salah satu perhatian utama Munas PUTRI 2026 adalah peluang pengembangan wisata berbasis wellness. Menurut Ni Luh, sektor ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan oleh anggota PUTRI.

Menurut laporan Global Wellness Institute, nilai ekonomi wellness tourism global pada 2024 mencapai US$894 miliar. Angka tersebut menjadi gambaran besarnya peluang pasar yang dapat dijajaki industri pariwisata Indonesia.

Namun, pengembangan wisata kebugaran di Indonesia dinilai tidak harus meniru konsep dari luar negeri. Tradisi, kearifan lokal, dan kekayaan alam Nusantara justru dapat menjadi pembeda sekaligus sumber nilai tambah destinasi.

Karena itu, PUTRI diharapkan mulai mengintegrasikan konsep wellness ke dalam taman rekreasi dan berbagai produk wisata, dengan menyesuaikan karakter serta keunggulan masing-masing destinasi.

Pendekatan ini membuka ruang bagi budaya lokal untuk hadir bukan hanya sebagai tontonan, melainkan bagian dari pengalaman wisata yang memiliki nilai ekonomi.

Hans Manangsang Kembali Pimpin PUTRI

Di tengah agenda penguatan industri tersebut, pemilihan ketua umum menjadi salah satu keputusan utama Munas.

Peserta dari DPP dan DPD PUTRI menetapkan Hans Manangsang kembali memimpin organisasi untuk periode 2026–2031. Keputusan itu diambil pada Jumat, 6 November 2026.

Kepemimpinan baru diharapkan menjaga kesinambungan program organisasi sekaligus memperkuat peran taman rekreasi dalam perkembangan pariwisata nasional.

"Kepercayaan ini adalah amanah. Kami akan memperkuat PUTRI sebagai rumah bersama bagi pelaku usaha taman rekreasi di seluruh Indonesia," ujar Hans.

Selain pemilihan ketua umum, Munas membahas lima agenda utama. Agenda tersebut meliputi pembaruan AD/ART, evaluasi organisasi dan penyerapan aspirasi anggota, serta business matching dan networking antarpelaku usaha.

Integrasi wellness tourism berbasis budaya Nusantara juga menjadi salah satu agenda yang dibahas untuk memperkuat nilai tambah destinasi.

Reconnect: Menghubungkan Manusia, Budaya, dan Kesejahteraan

Ketua Panitia Pelaksana Munas PUTRI, GKR Bendara, memandang Yogyakarta sebagai ruang pertemuan gagasan, seni, tradisi, dan manusia.

Menurutnya, orang berwisata bukan hanya untuk melihat tempat baru, tetapi juga mencari pengalaman yang memungkinkan mereka pulih dan merasa utuh kembali.

"Ketika wellness berpadu dengan pariwisata, nilai yang kita tawarkan menjadi lebih dalam. Pengunjung membawa pulang pengalaman yang menyehatkan, pelaku usaha mendapat peluang baru, dan masyarakat ikut merasakan manfaat ekonominya," ujar GKR Bendara.

Ia mengaitkan Munas PUTRI dengan Jogja Cultural Wellness Festival (JCWF) 2026 yang mengusung tema “Reconnect – Reconnecting People, Culture & Wellbeing”.

Tema tersebut membawa tiga pesan utama: People atau hubungan antarmanusia, Culture sebagai akar identitas pariwisata, serta Wellbeing sebagai tujuan kesejahteraan lahir dan batin.

Kedekatan dua agenda itu terlihat dari waktu dan lokasi penyelenggaraannya. Munas PUTRI berlangsung pada 5–7 November, sedangkan JCWF 2026 digelar pada 6–8 November 2026, keduanya di Loman Park Hotel, Yogyakarta.

[caption id="attachment_27652" align="aligncenter" width="1000"] Foto : Istimewa[/caption]

JCWF Menjadi Contoh Praktik Wellness Berbasis Budaya

JCWF 2026 menjadi salah satu contoh penerapan konsep wisata kebugaran yang dipadukan dengan budaya lokal.

Festival yang kembali digelar untuk keempat kalinya itu menghadirkan 97 komunitas dan mitra terkurasi, terdiri atas 65 praktisi kebugaran dan 32 artisan. Sebanyak 85 program disiapkan, dengan 14 di antaranya dapat diikuti secara gratis oleh publik.

Pengalaman yang ditawarkan beragam, mulai dari lokakarya jamu, senam SKJ 88, meditasi laku mulih, tarot Jawa, hingga konsultasi keris.

Bagi pelaku usaha taman rekreasi, penyelenggaraan JCWF bersamaan dengan Munas PUTRI menjadi kesempatan untuk melihat langsung bagaimana unsur budaya dan wellness dikemas menjadi pengalaman wisata.

Sekretaris Umum DPD PUTRI DIY sekaligus Koordinator Marketing dan Komunikasi JCWF 2026, Agus Budi Rachmanto, menyebut kedekatan kedua agenda itu sebagai peluang promosi bersama.

"Munas PUTRI dan JCWF 2026 bertemu pada waktu dan tempat yang sama. Ini kesempatan bagi anggota PUTRI untuk melihat langsung bagaimana wellness dan budaya dikemas menjadi pengalaman wisata yang bernilai ekonomi, lalu menerapkannya di destinasi masing-masing," kata Agus.

Peluang Ekonomi Harus Berjalan Bersama Keberlanjutan

Potensi ekonomi dari wisata berbasis budaya juga tercermin dalam penyelenggaraan JCWF sebelumnya.

Berdasarkan laporan penyelenggara JCWF 2025, perputaran ekonomi mencapai Rp6,1 miliar. Festival tersebut menarik 3.368 pengunjung, melibatkan 73 mitra dan 96 UMKM, serta menyerap 1.335 tenaga kerja.

Berdasarkan siaran pers Kementerian Pariwisata, untuk penyelenggaraan 2026, Kementerian Pariwisata mendukung pengembangan wisata wellness berbasis budaya lokal melalui JCWF. Festival ini juga membidik wisatawan pada masa low season.

Aspek keberlanjutan turut menjadi perhatian penyelenggara. JCWF bekerja sama dengan Kelurahan Guwosari, Bantul, untuk pengelolaan sampah nol limbah, serta dengan Atourin dalam penghitungan jejak karbon.

Langkah tersebut memperlihatkan bahwa pengembangan pariwisata tidak hanya berkaitan dengan jumlah kunjungan dan transaksi ekonomi. Pengelolaan lingkungan dan keterlibatan masyarakat juga menjadi bagian dari upaya menjaga manfaat pariwisata dalam jangka panjang.

GKR Bendara berharap Munas PUTRI menghasilkan kepengurusan yang solid, program kerja nyata, serta langkah strategis untuk memperkuat peran organisasi dalam pariwisata dan ekonomi nasional.

Bagi pelaku taman rekreasi, rekomendasi konkretnya adalah mengidentifikasi elemen budaya dan wellness lokal yang autentik, mengemasnya menjadi paket pengalaman yang terukur, menjalin kemitraan dengan komunitas dan UMKM, serta memantau dampak ekonomi dan lingkungan. Dengan begitu, semangat Munas PUTRI dan JCWF 2026 dapat diterjemahkan menjadi produk wisata yang berkelanjutan dan bermanfaat bagi masyarakat luas.

Bagi Yogyakarta, pertemuan Munas PUTRI dan JCWF menghadirkan ruang untuk mempertemukan industri, budaya, komunitas, dan pelaku ekonomi lokal. Tantangannya adalah memastikan kekayaan tradisi tidak berhenti sebagai daya tarik, tetapi dapat tumbuh menjadi pengalaman wisata yang memberi manfaat bagi masyarakat.

 

Ikuti Update Berita Ini

 

Berita Terkini

Selengkapnya
 
Iklan sisipan (dipindah otomatis)
Beranda: blok berita (Label/tipe/jumlah)
 
 
 
 
 
Iklan 320 x 50
 
Realita.ID