Realita.ID – Drama besar tersaji dalam laga puncak Super League 2026 yang berlangsung di Old Trafford, Manchester. Wakefield Trinity berhasil menorehkan sejarah dengan menundukkan Warrington Wolves 23-10, sekaligus mengakhiri penantian gelar juara liga selama 58 tahun. Kemenangan ini menjadi momen bersejarah bagi klub yang baru kembali ke kasta tertinggi setelah degradasi pada 2023.
Pertandingan yang digelar Sabtu malam waktu setempat itu disaksikan oleh 71.728 penonton, menjadikannya sebagai kehadiran tertinggi di Grand Final Super League sejak 2015. Old Trafford yang legendaris dipenuhi pendukung setia, menciptakan atmosfer yang luar biasa bagi kedua tim yang sama-sama belum pernah meraih gelar di era Super League.
Jalannya Pertandingan
Wakefield memulai laga dengan penuh percaya diri. Cameron Scott membuka keunggulan pada menit ke-11 melalui penyelesaian cerdas setelah menerima umpan no-look dari Lachlan Walmsley. Isaiah Vagana dan Jazz Tevaga menambah dua try lagi, sementara Jack Sinfield menutup babak pertama dengan drop goal, membuat skor menjadi 19-0.
Memasuki babak kedua, Warrington sempat bangkit setelah Corey Hall mendapat kartu kuning karena pelanggaran tinggi terhadap Arron Lindop. Lindop memanfaatkan keunggulan jumlah pemain untuk mencetak try dan memperkecil kedudukan. Namun, Wakefield merespons cepat melalui try Tom Johnstone pada menit ke-60, memastikan kemenangan mereka.
Warrington yang dilatih Sam Burgess harus menerima kenyataan pahit. Kekalahan ini menjadi yang kelima bagi mereka di Grand Final, memperpanjang penantian gelar liga selama 71 tahun. Meski sempat memberikan perlawanan, The Wire tidak mampu membendung determinasi Wakefield yang tampil luar biasa sepanjang pertandingan.
Prestasi Individu dan Rekor Baru
Tom Johnstone dinobatkan sebagai pemain terbaik pertandingan dan menerima Rob Burrow Award. Sayap tim nasional Inggris itu tampil memukau di sisi kiri, membahayakan pertahanan Warrington sepanjang laga. Sementara itu, Tyson Smoothy, hooker asal Australia, mencatatkan rekor langka dengan meraih gelar NRL dan Super League dalam dua tahun berturut-turut, setelah sebelumnya menjuarai NRL bersama Brisbane Broncos.
Keberhasilan Wakefield juga tidak lepas dari peran pelatih Daryl Powell. Sebelumnya, Powell pernah gagal di Grand Final 2017 bersama Castleford Tigers. Kini, ia berhasil membawa Trinity dari Championship hingga menjadi juara, berkat dukungan pemilik baru Matt Ellis. “Kami pergi ke Wigan pekan lalu dan itu pekerjaan yang sulit, tapi itu menunjukkan apa yang bisa kami lakukan,” ujar Powell.
Dampak bagi Super League
Kemenangan Wakefield menjadikan mereka juara keenam dalam sejarah Super League, bergabung dengan Wigan Warriors, St Helens, Leeds Rhinos, Bradford Bulls, dan Hull KR. Selain itu, musim ini mencatatkan rekor baru dengan total penonton menembus dua juta orang untuk pertama kalinya dalam sejarah kompetisi. Pencapaian ini menegaskan posisi Super League sebagai salah satu liga rugby paling diminati di dunia.
Di sisi lain, Warrington harus kembali menelan pil pahit. Meski telah empat kali mencapai Grand Final sebelumnya, mereka belum sekalipun mengangkat trofi. Kini, tekanan semakin besar bagi Burgess dan pasukannya untuk bangkit musim depan.
Perayaan Wakefield berlangsung meriah di Old Trafford. Para pemain dan staf berpelukan, merayakan gelar yang telah lama dinanti. Bagi para penggemar, momen ini adalah pembalasan atas kerja keras dan kesabaran selama bertahun-tahun. Sementara itu, bagi Warrington, ini adalah luka yang harus segera diobati.
Dengan berakhirnya Grand Final ini, Super League resmi menutup musim 2026 yang penuh kejutan. Wakefield Trinity, dari tim yang terdegradasi menjadi juara, telah membuktikan bahwa keajaiban masih ada di dunia olahraga. Prestasi mereka akan dikenang sebagai salah satu kisah paling inspiratif dalam sejarah kompetisi.





