Realita.ID – Bandung, kota yang dikelilingi oleh keindahan alam dan potensi geologi yang unik, kini menghadapi pertanyaan penting: Sesar Lembang sudah 560 tahun tak gempa besar, apa dampaknya? Penelitian terbaru menunjukkan bahwa Sesar Lembang, yang merupakan sesar aktif, belum mengalami gempa besar sejak abad ke-15. Hal ini menimbulkan kekhawatiran mengenai risiko yang dapat muncul jika periode tenang ini berakhir.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh tim dari British Geological Survey (BGS) dan Institut Teknologi Bandung (ITB), jejak gempa terakhir yang teridentifikasi berasal dari tahun 1466, yaitu sekitar 560 tahun yang lalu. Penelitian ini juga menghasilkan estimasi interval pengulangan gempa yang berkisar antara 170 hingga 670 tahun. Meskipun demikian, para peneliti menekankan bahwa data ini tidak dapat digunakan untuk memprediksi waktu gempa berikutnya.
Dr. Mudrik Daryono dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa jejak geologi menunjukkan bahwa Sesar Lembang pernah menghasilkan gempa berkekuatan besar di masa lalu. Penggalian di sekitar jalur sesar mengungkapkan pergeseran vertikal sekitar 40 cm yang diperkirakan berkaitan dengan gempa berkekuatan magnitudo 6,5 hingga 7. Ini mengindikasikan bahwa meskipun saat ini tidak ada aktivitas gempa besar, potensi untuk terjadinya bencana tetap ada.
Lebih dari sembilan juta orang tinggal di kawasan Metropolitan Bandung, yang juga berdekatan dengan beberapa gunung api aktif seperti Tangkuban Perahu, Guntur, Papandayan, dan Galunggung. Dengan populasi yang besar dan risiko geologi yang tinggi, kesiapsiagaan bencana menjadi sangat penting. Karena itu, penelitian yang dilakukan oleh BGS dan ITB bertujuan untuk memetakan potensi risiko yang dihadapi oleh masyarakat dan infrastruktur.
Proyek penelitian ini tidak hanya berfokus pada pemahaman geologi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam mengidentifikasi risiko dan mencari solusi yang tepat. Peneliti berusaha untuk menggabungkan ilmu pengetahuan dengan pengalaman lokal masyarakat untuk menciptakan rencana kesiapsiagaan yang lebih efektif. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dasar bagi pembuatan kebijakan yang lebih baik dan kesiapan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan bencana.
Pameran bertajuk Setanah, Tak Diam yang diadakan di Bandung juga berperan penting dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang risiko geologi. Pameran ini menggabungkan seni dan sains untuk menyampaikan informasi mengenai potensi bahaya yang ada di daerah tersebut. Dengan melibatkan masyarakat, pameran ini bertujuan untuk membuka percakapan tentang risiko geologi dan bagaimana masyarakat dapat mempersiapkan diri.
Baca juga: Kaliwungu Kudus Tingkatkan Infrastruktur untuk Dukung Kawasan Industri
Dalam konteks ini, Sesar Lembang sudah 560 tahun tak gempa besar, apa dampaknya? menjadi pertanyaan yang harus dijawab oleh semua pihak. Masyarakat, pemerintah, dan ilmuwan perlu bekerja sama untuk meminimalkan risiko dan mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk. Dengan pendekatan yang berbasis bukti dan partisipasi aktif masyarakat, harapannya adalah Bandung dapat meningkatkan ketahanannya terhadap bencana geologi di masa depan.

