Daftar Isi
Realita.ID – Perekonomian Jawa Tengah kembali menorehkan catatan gemilang di tengah tekanan ketidakpastian ekonomi global. Hingga 31 Agustus 2026, Ekonomi Jateng Tumbuh 5 71 Persen APBN Surplus Rp11 22 Triliun menjadi sorotan utama karena capaian pertumbuhan tahunan atau year-on-year (yoy) tersebut melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,29 persen. Prestasi ini menegaskan bahwa Jawa Tengah masih memiliki fondasi ekonomi yang kokoh, ditopang oleh sinergi fiskal pusat dan daerah yang berjalan harmonis.
Kepala Kanwil Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Jawa Tengah, Bayu Andy Prasetya, mengungkapkan bahwa kinerja positif ini tidak lepas dari terjaganya stabilitas harga serta membaiknya sejumlah indikator kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah termasuk yang relatif tinggi di Pulau Jawa, menjadikannya salah satu motor penggerak ekonomi regional.
“Sinergi APBN dan APBD di Jawa Tengah terus kami jaga untuk mendukung stabilitas ekonomi, mendorong pertumbuhan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujar Bayu dalam keterangannya di Semarang.
Stabilitas Harga dan Indikator Kesejahteraan Membaik
Di sisi stabilitas harga, inflasi Jawa Tengah pada Agustus 2026 tercatat 3,08 persen secara tahunan, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional sebesar 3,19 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat relatif terjaga di tengah gejolak harga komoditas global. Sementara itu, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Mei 2026 berada di angka 4,30 persen, juga lebih rendah dibandingkan angka nasional sebesar 4,65 persen.
Indikator kesejahteraan lain turut memperlihatkan perbaikan. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Jawa Tengah pada 2025 mencapai 74,77 dan masuk kategori tinggi. Tingkat kemiskinan pada Maret 2026 turun menjadi 9,21 persen, sedangkan Indeks Keyakinan Konsumen Agustus 2026 berada pada level 117,8 yang menandakan optimisme konsumen terhadap prospek ekonomi ke depan.
Dari sektor pertanian, Nilai Tukar Petani (NTP) meningkat menjadi 118,84, mencerminkan peningkatan kesejahteraan petani. Indeks Ketahanan Pangan Jawa Tengah 2026 juga mencapai 76,20, lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Capaian ini memperkuat posisi Jawa Tengah sebagai salah satu lumbung pangan strategis di Indonesia.
Kinerja APBN Regional dan Surplus Fiskal
Dari sisi APBN regional, realisasi pendapatan negara hingga 31 Agustus 2026 mencapai Rp80,72 triliun atau 65,19 persen dari target. Angka tersebut tumbuh 14,46 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Rincian pendapatan tersebut meliputi penerimaan pajak Rp34,83 triliun, kepabeanan dan cukai Rp40,25 triliun, serta Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Rp5,64 triliun.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencapai Rp69,50 triliun atau 69,20 persen dari pagu. Belanja tersebut terdiri atas belanja Kementerian/Lembaga Rp25,46 triliun dan Transfer ke Daerah Rp44,03 triliun. Secara tahunan, belanja negara tumbuh 3,27 persen sehingga APBN regional Jawa Tengah mencatat surplus Rp11,22 triliun. Dengan demikian, Ekonomi Jateng Tumbuh 5 71 Persen APBN Surplus Rp11 22 Triliun menjadi indikasi kuat bahwa pengelolaan fiskal daerah berjalan sehat dan efisien.
Pendapatan Daerah dan Penyaluran Kredit Produktif
Pada level pemerintah daerah, realisasi pendapatan daerah hingga Agustus 2026 mencapai Rp70,35 triliun atau 68,56 persen dari target. Namun, pendapatan tersebut terkontraksi 7,12 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dengan pendapatan transfer masih menjadi sumber utama sebesar 65,52 persen. Dari sisi belanja, realisasi Belanja Daerah mencapai Rp57,33 triliun atau 52,20 persen dari target, menjadi bagian dari sinergi fiskal pemerintah pusat dan daerah dalam menjaga aktivitas ekonomi serta pelayanan kepada masyarakat.
Dari sektor pembiayaan, penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga Agustus 2026 mencapai Rp33,56 triliun kepada 656.029 debitur, tumbuh 10,10 persen secara tahunan. Sementara pembiayaan Ultra Mikro (UMi) mencapai Rp1,19 triliun kepada 183.621 debitur, meningkat sekitar 50,98 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan pembiayaan ini menunjukkan bahwa sektor UMKM tetap menjadi tulang punggung ekonomi Jawa Tengah.
Selain itu, Jawa Tengah juga mendapatkan alokasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBH CHT) sebesar Rp764,87 miliar, dengan realisasi penyaluran hingga Agustus 2026 rata-rata sekitar 55 persen. Dana ini diharapkan dapat mendukung program pembangunan daerah, khususnya di sektor kesehatan dan penegakan hukum terkait cukai.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Meski menorehkan kinerja positif, pemerintah daerah tetap mewaspadai berbagai tantangan global seperti fluktuasi harga energi, ketegangan geopolitik, serta perlambatan ekonomi mitra dagang utama. Ke depan, pemerintah akan terus mengoptimalkan kualitas belanja, menjaga stabilitas harga, memperkuat ketahanan pangan, dan meningkatkan daya saing daerah agar pertumbuhan ekonomi semakin inklusif dan berkelanjutan.
Dengan capaian Ekonomi Jateng Tumbuh 5 71 Persen APBN Surplus Rp11 22 Triliun, Jawa Tengah menunjukkan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal pusat dan daerah mampu menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Surplus APBN regional menjadi bantalan fiskal yang dapat dimanfaatkan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta memperluas akses pembiayaan bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah.
Secara keseluruhan, kinerja ekonomi Jawa Tengah hingga Agustus 2026 memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Pertumbuhan yang melampaui rata-rata nasional, inflasi yang terkendali, penurunan tingkat pengangguran dan kemiskinan, serta surplus APBN regional menjadi bukti nyata bahwa kebijakan ekonomi yang ditempuh berada di jalur yang tepat. Tantangan ke depan tetap ada, namun dengan modal kinerja yang solid, Jawa Tengah optimistis dapat mempertahankan momentum pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan.






