Realita.ID – Bunda PAUD Jepara Minta 8 Indikator PAUDHI Tak Sebatas Isian Dapodik menjadi sorotan utama dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pemenuhan 8 Indikator PAUDHI yang digelar di Aula Sultan Hadlirin, Gedung OPD Bersama, kompleks Pendopo Kartini Jepara, Selasa (29/9/2026). Permintaan tersebut disampaikan langsung oleh Bunda PAUD Kabupaten Jepara, Laila Saidah Witiarso Utomo, saat membuka kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 29–30 September 2026.
Dalam sambutannya, Laila menegaskan bahwa pengisian delapan indikator Pengembangan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUDHI) pada aplikasi Dapodik tidak boleh sekadar menjadi rutinitas administrasi. Ia ingin indikator tersebut benar-benar mencerminkan layanan nyata yang diterima anak di setiap satuan PAUD. “PAUDHI bukan sekadar pemenuhan indikator maupun kelengkapan administrasi, tetapi PAUDHI adalah komitmen kita untuk memastikan setiap anak mendapatkan layanan yang utuh baik dalam pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, dan kesejahteraan,” ujar Laila.
Ia menambahkan, delapan indikator PAUDHI semestinya dijadikan alat ukur untuk melihat sejauh mana kebutuhan anak dan keluarga telah terpenuhi. Menurutnya, layanan PAUDHI tidak hanya berb berbicara soal pendidikan semata, tetapi juga menyentuh aspek kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, hingga kesejahteraan. Karena itu, Bunda PAUD Jepara Minta 8 Indikator PAUDHI Tak Sebatas Isian Dapodik agar tidak terjebak pada formalitas data.
Bimtek ini diikuti oleh 93 peserta yang berasal dari berbagai unsur. Rinciannya, satu pengawas TK, tujuh penilik PAUD, 16 ketua Pusat Kegiatan Gugus (PKG) kecamatan, 32 perwakilan IGTKI, 32 perwakilan HIMPAUDI, dan lima kepala satuan pendidikan di bawah naungan IGABA. Mereka mendapat pendampingan teknis terkait pengisian data pemenuhan delapan indikator PAUDHI pada aplikasi Dapodik, sekaligus diajak untuk mengevaluasi capaian yang sudah ada dan memperbaiki kualitas data yang dimasukkan.
Kegiatan ini menghadirkan Hartono dan Harimurti sebagai fasilitator PAUDHI. Turut hadir Kabid PAUD dan PNF Disdikpora Jepara Hery Prasetyo serta Kasi PAUD Nailis Sa’adah. Dalam sesi pendampingan, peserta tidak hanya dibekali cara menginput data, tetapi juga diajak memahami makna di balik setiap indikator. Tujuannya agar data yang diisi benar-benar menggambarkan kondisi layanan di lapangan, bukan sekadar angka yang memenuhi syarat administratif.
Laila berharap Bimtek yang berlangsung dua hari ini tidak berhenti pada pemahaman dan dokumen. “Saya berharap kegiatan Bimtek ini tidak berhenti pada pemahaman dan dokumen, tetapi benar-benar menghasilkan langkah nyata di setiap satuan PAUD,” tegasnya. Harapan ini sejalan dengan semangat Bunda PAUD Jepara Minta 8 Indikator PAUDHI Tak Sebatas Isian Dapodik yang menekankan pentingnya aksi nyata di lapangan.
Delapan indikator PAUDHI sendiri mencakup berbagai aspek penting dalam pengembangan anak usia dini. Mulai dari layanan pendidikan, kesehatan, gizi, pengasuhan, perlindungan, hingga kesejahteraan. Setiap indikator memiliki peran strategis dalam memastikan anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Namun, jika pengisiannya hanya bersifat formalitas, maka tujuan mulia PAUDHI bisa terabaikan.
Oleh karena itu, para peserta Bimtek diajak untuk melihat kembali data yang sudah ada. Mereka diminta memverifikasi apakah layanan yang tercatat benar-benar sudah diberikan. Jika ada kekurangan, mereka didorong untuk segera melakukan perbaikan. Pendekatan ini diharapkan mampu mendorong peningkatan kualitas layanan PAUDHI secara berkelanjutan.
Dalam konteks yang lebih luas, upaya Bunda PAUD Jepara Minta 8 Indikator PAUDHI Tak Sebatas Isian Dapodik juga menjadi pengingat bagi seluruh pemangku kepentingan. Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Jepara, para pengawas, penilik, serta organisasi profesi seperti IGTKI, HIMPAUDI, dan IGABA memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan setiap anak mendapatkan haknya.
Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci. Pasalnya, PAUDHI bukan hanya tugas guru atau sekolah, melainkan membutuhkan dukungan dari keluarga, masyarakat, dan pemerintah daerah. Dengan sinergi yang kuat, delapan indikator PAUDHI dapat menjadi instrumen yang efektif untuk mengukur dan meningkatkan kualitas layanan anak usia dini.
Melalui Bimtek ini, diharapkan terjadi perubahan paradigma. Pengisian Dapodik bukan lagi sekadar kewajiban administratif, melainkan sarana untuk merefleksikan kualitas layanan. Jika semua pihak memiliki kesadaran yang sama, maka anak-anak di Kabupaten Jepara akan tumbuh dalam lingkungan yang holistik dan integratif.
Sebagai penutup, langkah yang diambil Bunda PAUD Jepara patut diapresiasi. Permintaan agar delapan indikator PAUDHI tidak sekadar menjadi isian Dapodik adalah wujud komitmen terhadap masa depan anak. Dengan implementasi yang sungguh-sungguh, kualitas PAUDHI di Jepara dapat terus meningkat, dan hak anak untuk mendapatkan layanan utuh dapat terpenuhi.






