Realita.ID – Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menegaskan bahwa dirinya tak akan diam atas penderitaan warga Palestina, ini langkah konkretnya yang menjadi sorotan dunia internasional. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan di Downing Street, Burnham menyatakan komitmen kuat pemerintahannya untuk mengambil tindakan nyata guna meringankan beban rakyat Palestina yang terus dilanda konflik berkepanjangan. Langkah ini menandai pergeseran signifikan dalam kebijakan luar negeri Inggris di kawasan Timur Tengah, yang selama ini dianggap terlalu pasif.
Burnham, yang baru menjabat sebagai perdana menteri sejak menggantikan Keir Starmer, menekankan bahwa isu Palestina bukan sekadar retorika politik. “Kita tidak bisa terus berjalan seperti sekarang. Politik seperti biasa telah membawa Inggris mundur,” ujarnya, mengutip pernyataannya dalam konferensi Partai Buruh di Liverpool. Ia menambahkan bahwa pemerintahannya akan mengedepankan diplomasi kemanusiaan dan mendesak gencatan senjata segera di Gaza. Langkah konkret pertama yang diumumkan adalah peningkatan bantuan kemanusiaan Inggris untuk Palestina sebesar £50 juta, yang akan disalurkan melalui lembaga-lembaga PBB dan organisasi non-pemerintah yang beroperasi di lapangan.
Selain itu, PM Inggris Andy Burnham tak akan diam atas penderitaan warga Palestina, ini langkah konkretnya juga mencakup pembukaan kembali jalur diplomatik dengan negara-negara Arab dan Eropa untuk membahas solusi dua negara. Ia berencana menggelar pertemuan puncak darurat bersama para pemimpin Uni Eropa dan Liga Arab pada bulan November mendatang. “Kita perlu membangun konsensus internasional yang kuat untuk mengakhiri penderitaan ini. Inggris akan memainkan peran aktif, bukan hanya menjadi penonton,” tegas Burnham. Ia juga menginstruksikan Menteri Luar Negeri Ed Miliband untuk segera melakukan kunjungan ke Yordania dan Mesir guna membahas koridor bantuan kemanusiaan ke Gaza.
Dalam konteks domestik, Burnham menghadapi tekanan dari berbagai pihak, termasuk dari Partai Buruh sendiri yang mendesak sikap lebih tegas terhadap Israel. Namun, ia berusaha menyeimbangkan antara kritik terhadap pelanggaran hak asasi manusia dan kepentingan strategis Inggris. “Saya akan sangat khawatir jika kita kehilangan mitra penting, tetapi nilai-nilai kemanusiaan harus di atas segalanya,” ujarnya, merujuk pada hubungan dengan negara-negara Teluk. Ia juga menyoroti pentingnya pembukaan kembali Selat Hormuz untuk kelancaran bantuan, seraya mendesak Iran untuk memilih deeskalasi konflik.
Langkah konkret lainnya adalah pembentukan satuan tugas khusus di Kementerian Luar Negeri Inggris yang akan memantau dan melaporkan pelanggaran hak asasi manusia di wilayah Palestina. Satgas ini akan bekerja sama dengan organisasi internasional seperti Amnesty International dan Human Rights Watch. Burnham juga mengumumkan bahwa Inggris akan meningkatkan kuota penerimaan pengungsi Palestina yang memenuhi syarat untuk mendapatkan suaka, sebagai bentuk tanggung jawab moral. “Kita tidak bisa menutup mata terhadap penderitaan mereka. Ini adalah ujian bagi kemanusiaan kita,” tambahnya.
Di sisi lain, kebijakan ini menuai kritik dari kelompok pro-Israel di Inggris yang menilai Burnham terlalu berpihak. Namun, Burnham tetap pada pendiriannya. Ia mengingatkan bahwa Inggris memiliki sejarah panjang dalam mendukung perdamaian di Timur Tengah, dan bahwa keadilan bagi Palestina adalah kunci stabilitas kawasan. “Saya akan memaparkan kepada publik berbagai opsi mengenai hubungan jangka panjang kita dengan Uni Eropa, tetapi untuk Palestina, tidak ada opsi selain keadilan,” tegasnya.
PM Inggris Andy Burnham tak akan diam atas penderitaan warga Palestina, ini langkah konkretnya juga melibatkan kerja sama dengan Pemerintah Skotlandia dan Wales yang telah lebih dulu menyuarakan dukungan. Ia berencana mengalokasikan dana tambahan untuk program pendidikan dan kesehatan di kamp-kamp pengungsi Palestina di Lebanon dan Yordania. “Kita harus memberikan harapan nyata, bukan sekadar janji,” ujarnya. Langkah ini disambut positif oleh sejumlah organisasi kemanusiaan yang telah lama mendesak Inggris untuk bertindak lebih jauh.
Sebagai penutup, komitmen Andy Burnham terhadap Palestina mencerminkan perubahan arah politik yang lebih humanis dan berani. Meski tantangan politik dan ekonomi domestik tidak ringan, ia membuktikan bahwa Inggris dapat menjadi kekuatan positif dalam menyelesaikan konflik berkepanjangan. Dunia menanti realisasi langkah-langkah konkret tersebut, dan apakah Burnham mampu mengubah retorika menjadi tindakan nyata yang membawa perdamaian bagi warga Palestina.



