Realita.ID – Program 27 Ribu Al-Quran Solopeduli Awali Bebas Buta Al-Qur’an di Masjid Laweyan resmi diluncurkan pada Sabtu (3/10) dengan menggelar pelatihan bagi takmir masjid dan guru ngaji se-Kota Surakarta. Kegiatan bertajuk ‘27.000 Al-Qur’an untuk Masjid di Jawa Tengah‘ ini menjadi langkah awal sebelum dilaksanakan secara bertahap di 35 kabupaten/kota se-Jawa Tengah. Inisiatif ini digagas oleh LAZ Solopeduli bekerja sama dengan Kementerian Agama Kota Surakarta, menargetkan penyaluran 27.000 Al-Qur’an wakaf sekaligus meningkatkan kompetensi pengajar Al-Qur’an di wilayah tersebut.
Pada tahap awal di Surakarta, sebanyak 100 takmir masjid dan guru ngaji dari Kecamatan Banjarsari, Jebres, Laweyan, Pasar Kliwon, dan Serengan turut serta menjadi peserta pelatihan. Mereka menerima materi bertema ‘Cara Mudah dan Cepat Mengajarkan Al-Qur’an’ dengan metode Dzakira dari Zahrawain Indonesia yang disampaikan oleh Ustaz Rudy Hartanto. Selain itu, para peserta juga mendapatkan penyaluran 500 eksemplar Al-Qur’an wakaf, terdiri dari 300 eksemplar ukuran A5 dan 200 eksemplar ukuran A4 untuk lansia, beserta perlengkapan pendukung pembelajaran.
CEO LAZ Solopeduli, Sidik Anshori, menyatakan bahwa program yang juga masuk dalam rangkaian Milad ke-27 SOLOPEDULI ini berfokus pada penyaluran fisik Al-Qur’an sekaligus pembekalan metode pengajaran. “Kami mengapresiasi Masjid Laweyan yang telah berkenan menjadi tempat pertama dimulainya program strategis ini,” ungkap Sidik. Menurutnya, pemilihan Masjid Laweyan bukan tanpa alasan, karena masjid tersebut memiliki nilai sejarah panjang dalam perkembangan dakwah Islam di Surakarta.
Takmir Masjid Laweyan, Ustaz Ipmawan Muhammad Iqbal, menyambut baik pemilihan lokasi tersebut. Ia menjelaskan bahwa Masjid Laweyan memiliki keterkaitan erat dengan kiprah Ki Ageng Henis sebagai penyebar agama Islam dan leluhur raja-raja Wangsa Mataram. “Kami merasa terhormat menjadi bagian dari awal gerakan 27 Ribu Al-Quran Solopeduli Awali Bebas Buta Al-Qur’an di Masjid Laweyan. Ini adalah amanah besar untuk mengembangkan syiar Al-Qur’an,” ujarnya.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan penyerahan simbolis mockup dan wakaf Al-Qur’an oleh Sidik Anshori bersama perwakilan Kementerian Agama Kota Surakarta, Sulaeman, kepada Takmir Masjid Laweyan. Sulaeman dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara lembaga zakat, pemerintah, dan masyarakat dalam mengentaskan buta huruf Al-Qur’an. “Program 27 Ribu Al-Quran Solopeduli Awali Bebas Buta Al-Qur’an di Masjid Laweyan ini harus menjadi pemicu semangat bagi daerah lain,” tegasnya.
Salah satu peserta dari TPQ Masjid MTA Cabang Laweyan, Vika Veprika Rismawati, mengapresiasi pelatihan tersebut dan siap menerapkan metode baru untuk mempermudah pembelajaran para santri. “Metode Dzakira sangat praktis dan mudah dipahami. Saya akan langsung terapkan di TPQ kami,” kata Vika. Ia berharap program 27 Ribu Al-Quran Solopeduli Awali Bebas Buta Al-Qur’an di Masjid Laweyan dapat berlanjut dan menjangkau lebih banyak masjid di Surakarta.
Program ini tidak hanya berhenti di Surakarta. Solopeduli menargetkan perluasan ke seluruh 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah dengan total 27.000 Al-Qur’an yang akan disalurkan secara bertahap. Setiap daerah akan mendapatkan pelatihan serupa bagi takmir dan guru ngaji, sehingga penyaluran Al-Qur’an diimbangi dengan peningkatan kualitas pengajaran. Hal ini sejalan dengan visi Solopeduli untuk menciptakan masyarakat yang bebas buta huruf Al-Qur’an.
Dalam pelaksanaannya, Solopeduli menggandeng berbagai pihak, termasuk Kementerian Agama, takmir masjid, dan komunitas pengajar Al-Qur’an. Metode Dzakira yang diperkenalkan diharapkan menjadi standar baru dalam pembelajaran Al-Qur’an yang cepat dan menyenangkan. Peserta pelatihan juga mendapatkan modul dan panduan praktis untuk mengajar, sehingga dapat langsung mengimplementasikan di tempat masing-masing.
Ke depan, Solopeduli berencana menggelar monitoring dan evaluasi untuk memastikan program berjalan efektif. Mereka juga akan membuka pendaftaran bagi masjid-masjid yang ingin menjadi tuan rumah pelatihan berikutnya. Dengan demikian, gerakan 27 Ribu Al-Quran Solopeduli Awali Bebas Buta Al-Qur’an di Masjid Laweyan menjadi tonggak penting dalam upaya pemberantasan buta huruf Al-Qur’an di Jawa Tengah.
Secara keseluruhan, peluncuran program ini menunjukkan komitmen nyata Solopeduli dan Kementerian Agama Kota Surakarta dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an. Melalui penyaluran Al-Qur’an wakaf dan pelatihan metode pengajaran, diharapkan semakin banyak masyarakat yang terbantu untuk membaca dan memahami Al-Qur’an. Partisipasi aktif dari takmir masjid dan guru ngaji menjadi kunci keberhasilan program yang akan berlangsung sepanjang tahun 2026 ini.






