Realita.ID – Fasilitas Trans Semarang dikeluhkan penumpang, pengamat minta pengawasan independen. Sejumlah pengguna bus Trans Semarang mengungkapkan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi fasilitas armada yang dinilai kurang terawat. Keluhan ini mencakup berbagai masalah, mulai dari pendingin udara yang tidak berfungsi, jok yang tidak nyaman, hingga armada lama yang mengeluarkan asap.
Anton Aries, seorang pengguna setia, berbagi pengalamannya ketika menggunakan BRT koridor V/10 menuju PRPP. Ia mengeluhkan bahwa pendingin udara dalam bus tersebut mati total, menyebabkan perjalanan terasa sangat panas. “Hari ini saya pulang kerja naik BRT koridor V/10. Kondisi panas, AC mati total, jendela kanan dan kiri depan terbuka,” ujar Anton dalam keterangan tertulisnya.
Keluhan senada juga disampaikan oleh Aries Jufri, yang menggunakan Trans Semarang di Koridor II rute Terminal Terboyo-Terminal Sisemut. Ia menyoroti bahwa beberapa armada lama masih beroperasi meskipun mengeluarkan asap. “Armada yang baru tidak ada masalah, tetapi armada lama masih ada yang ngebul. Saya berharap pemerintah bisa mengecek kelayakan armada sebelum beroperasi,” tuturnya.
Anton Wijayanto, seorang penumpang lainnya, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi jok di armada Koridor V yang menurutnya sudah tidak layak. Ia juga menemukan bahwa pendingin udara di beberapa armada tidak bekerja dengan baik, terutama saat sore hari. “Saya sering menggunakan armada Koridor V untuk berangkat kerja. Joknya banyak yang tepos, dan AC-nya kadang hanya mengeluarkan angin,” keluhnya.
Menanggapi berbagai keluhan ini, Theresia Tarigan, seorang pengamat transportasi dan Ketua Komite Pematuhan Keselamatan Transportasi (KPTS), berpendapat bahwa pemantauan terhadap kinerja Trans Semarang selama ini masih didominasi oleh pihak pemerintah dan operator. Ia menekankan pentingnya melibatkan pihak eksternal dalam proses pengawasan agar penilaian terhadap kualitas pelayanan dapat lebih objektif.
“Pengawasan Trans Semarang tidak melibatkan pihak independen. Semua pengawasan ada di tangan badan Trans Semarang itu sendiri. Sebaiknya, kita libatkan masyarakat, komunitas penumpang, universitas, yayasan, atau lembaga konsumen,” kata Theresia. Ia menambahkan bahwa pemantauan bisa dilakukan bersama komunitas pengguna dan perguruan tinggi, untuk melihat kondisi armada secara berkala, termasuk fasilitas dan ketepatan waktu.
Baca juga: KUHP Nasional Resmi Berlaku Mulai Hari Ini, Gantikan Hukum Pidana Kolonial Belanda
Fasilitas Trans Semarang dikeluhkan penumpang dan pengamat minta pengawasan independen untuk memastikan bahwa pelayanan publik ini memenuhi standar yang diharapkan. Dengan adanya pengawasan yang lebih transparan, diharapkan kualitas pelayanan transportasi umum di Semarang dapat meningkat dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

