Realita.ID – Dampak Kekeringan di Kudus Kian Meluas Ribuan Jiwa di Enam Desa Ini Krisis Air Bersih. Hingga Senin (28/9/2026), sebanyak 1.309 kepala keluarga (KK) atau 3.986 jiwa di enam desa pada tiga kecamatan di Kabupaten Kudus tercatat mengalami krisis air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kudus terus menggelar operasi dropping air bersih untuk memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak.
Kepala BPBD Kudus, Eko Hari Djatmiko, mengungkapkan bahwa wilayah yang dilanda kekeringan meliputi Desa Glagahwaru di Kecamatan Undaan, Dukuh Colo di Desa Colo, Kecamatan Dawe, serta lima desa di Kecamatan Kaliwungu, yakni Setrokalangan, Kedungdowo, Mijen, Karangampel, dan Kaliwungu. “Dropping air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah terdampak,” ujar Eko, Senin (28/9/2026).
Desa Glagahwaru menjadi wilayah dengan jumlah warga terdampak paling besar. Sebanyak 606 KK atau 1.695 jiwa kesulitan mendapatkan air bersih. Kondisi tersebut tersebar di beberapa RW, yaitu RW 3 sebanyak 375 KK (1.091 jiwa), RW 2 sebanyak 54 KK (152 jiwa), RW 1 sebanyak 102 KK (276 jiwa), serta RW 5 sebanyak 75 KK (176 jiwa).
Di Desa Mijen, Kecamatan Kaliwungu, kekeringan berdampak terhadap 401 KK atau 1.383 jiwa. Sementara Desa Setrokalangan tercatat 137 KK atau 375 jiwa dan Desa Kedungdowo sebanyak 91 KK atau 295 jiwa. Adapun Desa Karangampel terdampak 24 KK atau 72 jiwa, sedangkan Desa Kaliwungu sebanyak 30 KK atau 86 jiwa. Di Dukuh Colo, Desa Colo, terdapat 20 KK atau 80 jiwa yang mengalami dampak kekeringan. Total keseluruhan mencapai 1.309 KK atau 3.986 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, dukungan air bersih yang disalurkan pada Senin mencapai 87.000 liter. Bantuan berasal dari sejumlah pihak, di antaranya Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Palang Merah Indonesia (PMI), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Forum Relawan Penanggulangan Bencana (FRPB), BPBD, dan Rumah Sakit Islam (RSI).
Rincian distribusi air pada hari tersebut: Setrokalangan menerima 23.000 liter dari BBWS, MDMC, dan PMI. Kedungdowo mendapat 30.000 liter dari Satpol PP dan FRPB. Mijen memperoleh 13.000 liter dari BPBD, FRPB, dan RSI. Karangampel mendapat bantuan 25.000 liter, sedangkan Kaliwungu menerima 5.000 liter dari BPBD. Namun, untuk Glagahwaru dan Colo, laporan BPBD pada Senin tersebut mencatat belum ada tambahan dropping air.
Selain distribusi air menggunakan tangki, BPBD juga menempatkan sejumlah tandon di titik-titik yang membutuhkan. Di Glagahwaru terdapat beberapa tandon berkapasitas mulai 250 liter hingga 5.000 liter. Tandon juga ditempatkan di Setrokalangan, Kedungdowo, Mijen, Kaliwungu, dan Colo.
Secara keseluruhan, sejak 15 Juli hingga 28 September 2026, BPBD Kudus mencatat penyaluran air bersih telah mencapai 2.671.500 liter atau sebanyak 432 tangki. Distribusi tersebut melibatkan banyak unsur, mulai dari BPBD, Kodim, Polres, Satpol PP, PDAM, BBWS, PMI, Baznas, organisasi masyarakat, dunia usaha, lembaga sosial, hingga kelompok masyarakat.
Dari total tersebut, Glagahwaru menerima 1.128.500 liter, Setrokalangan 761.000 liter, Mijen 408.000 liter, Kedungdowo 313.000 liter, Karangampel 25.000 liter, Colo 31.000 liter, dan Kaliwungu 5.000 liter. Data ini menunjukkan bahwa Desa Glagahwaru dan Setrokalangan menjadi prioritas utama dalam penyaluran bantuan air bersih.
BPBD bersama berbagai pihak terus melakukan penanganan kekeringan melalui distribusi air bersih ke wilayah terdampak. Upaya tersebut dilakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga selama kondisi kekurangan air berlangsung. Meski demikian, tantangan masih membayangi, terutama jika kemarau panjang berlanjut dan sumber air semakin mengering.
Dampak Kekeringan di Kudus Kian Meluas Ribuan Jiwa di Enam Desa Ini Krisis Air Bersih menjadi peringatan serius bagi semua pihak. Pemerintah daerah diharapkan tidak hanya mengandalkan dropping air, tetapi juga mencari solusi jangka panjang seperti pembangunan sumur bor, penampungan air hujan, atau sistem irigasi yang lebih efisien. Kolaborasi lintas sektor yang sudah terjalin perlu terus diperkuat agar warga di enam desa tersebut dapat segera terbebas dari krisis air bersih.
Dengan kondisi cuaca ekstrem yang diprediksi masih berlanjut, kewaspadaan dan kesiapsiagaan menjadi kunci. Masyarakat juga diimbau untuk bijak menggunakan air dan menjaga lingkungan sekitar. Tanpa upaya bersama, dampak kekeringan di Kudus kian meluas dan ribuan jiwa di enam desa ini akan terus menghadapi krisis air bersih yang berkepanjangan.




