Internasional

Duo Arab Retak! Arab Saudi Didesak Berdamai dengan Uni Emirat Arab demi Hancurkan Houthi di Yaman

Duo Arab Retak! Arab Saudi Didesak Berdamai dengan Uni Emirat Arab demi Hancurkan Houthi di Yaman
Duo Arab Retak! Arab Saudi Didesak Berdamai dengan Uni Emirat Arab demi Hancurkan Houthi di Yaman
Daftar Isi
  1. Pertemuan di Abu Dhabi dan Riyadh
  2. Harga yang Harus Dibayar Riyadh
  3. Langkah Berikutnya

Realita.ID – Arab Saudi didesak berdamai dengan Uni Emirat Arab untuk memperkuat perlawanan terhadap Houthi [titlebase] di Yaman. Dorongan rekonsiliasi ini kembali menguat setelah serangan mendadak kelompok Houthi di sekitar Selat Bab al-Mandab mengubah peta konflik dan memaksa Riyadh meninjau ulang aliansi militernya di kawasan. Hubungan kedua negara Teluk itu memburuk sejak Januari 2026, ketika pasukan yang berafiliasi dengan Arab Saudi menyerang dan mengalahkan Dewan Transisi Selatan (STC), kelompok separatis yang selama ini mendapat dukungan Uni Emirat Arab.

Kekalahan STC membuat UEA secara efektif menarik diri dari medan perang Yaman. Langkah itu meninggalkan celah besar dalam koordinasi pasukan antikelompok yang menentang Houthi, terutama di wilayah selatan dan pesisir Laut Merah. Situasi kian rumit ketika Houthi yang bersekutu dengan Iran bergerak cepat ke arah Selat Bab al-Mandab pada pertengahan September, menghancurkan garis pertahanan National Resistance Forces yang dipimpin Tareq Saleh, pasukan yang sebelumnya dilatih dan didukung UEA.

Baca juga:

Kemajuan Houthi itu menjadi pukulan telak. Selat Bab al-Mandab bukan sekadar jalur pelayaran internasional, melainkan urat nadi ekspor minyak Arab Saudi. Ketika pasukan Houthi merebut sejumlah wilayah dan mulai bergerak menuju Kota Taiz di Yaman barat daya, tekanan terhadap Riyadh dan pasukan pemerintah Yaman yang didukungnya meningkat tajam. Dalam kondisi inilah seruan agar Arab Saudi didesak berdamai dengan Uni Emirat Arab untuk memperkuat perlawanan terhadap Houthi [titlebase] semakin sulit diabaikan.

Pertemuan di Abu Dhabi dan Riyadh

Sejumlah pertemuan tingkat tinggi antara pejabat Saudi dan UEA digelar untuk membahas perkembangan Yaman. Di Abu Dhabi, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan hadir bersama Presiden UEA Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan serta sejumlah perwakilan negara Arab, termasuk Arab Saudi. Netanyahu dikabarkan menawarkan bantuan untuk mengalahkan Houthi, meski tawaran itu kemungkinan sulit diterima Riyadh karena alasan politik regional.

Pembahasan berlanjut di Riyadh dalam pertemuan antara Menteri Pertahanan Saudi Pangeran Khalid bin Salman Al Saud dan Wakil Presiden UEA Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Pertemuan tersebut menjadi sinyal bahwa kedua pihak mulai mencari jalan untuk memperbaiki hubungan yang retak, meski tahap awal kemungkinan terbatas pada kerja sama di sektor energi. Amerika Serikat juga dikabarkan mendorong kedua negara mengesampingkan perbedaan dan membentuk komando militer terpadu.

Baca juga:

Namun, jalan menuju rekonsiliasi tidak mulus. Arab Saudi masih menghadapi persoalan politik karena keterlibatan UEA sebelumnya dengan STC yang memperjuangkan pemisahan wilayah selatan Yaman. Riyadh perlu mempertimbangkan kembali pendekatannya terhadap kelompok-kelompok selatan jika ingin membangun kekuatan yang lebih terkoordinasi. Brigade Raksasa, pasukan yang pernah dilatih dan didukung UEA, dinilai masih memiliki kemampuan penting untuk menghadang kemajuan Houthi.

Harga yang Harus Dibayar Riyadh

Rekonsiliasi dengan UEA disebut sebagai salah satu harga yang harus dibayar Riyadh jika ingin membangun aliansi militer yang cukup kuat untuk mendorong mundur Houthi. Tanpa koordinasi yang solid, upaya menghadang Houthi di pesisir Laut Merah dan sekitar Selat Bab al-Mandab akan terus menghadapi kendala. Karena itu, Arab Saudi didesak berdamai dengan Uni Emirat Arab untuk memperkuat perlawanan terhadap Houthi [titlebase] menjadi salah satu opsi utama yang dibahas dalam berbagai forum diplomatik.

Selain faktor militer, terdapat pula dimensi ekonomi yang tidak bisa diabaikan. Selat Bab al-Mandab merupakan jalur strategis bagi ekspor minyak Saudi, sehingga stabilitas kawasan ini berdampak langsung pada kepentingan ekonomi Riyadh. Kehadiran Houthi yang semakin dekat dengan jalur pelayaran tersebut menimbulkan risiko besar bagi keamanan energi dan perdagangan internasional.

Baca juga:

Sejauh ini, Presiden Amerika Serikat Donald Trump belum merespons permintaan Saudi agar Washington membantu menghadapi Houthi di Yaman. Ketiadaan respons itu membuat Riyadh semakin bergantung pada kerja sama regional, termasuk dengan UEA. Dorongan agar Arab Saudi didesak berdamai dengan Uni Emirat Arab untuk memperkuat perlawanan terhadap Houthi [titlebase] pun semakin relevan di tengah ketidakpastian dukungan dari luar kawasan.

Langkah Berikutnya

  • Pembentukan komando militer terpadu antara pasukan Saudi, UEA, dan kelompok antikelompok Houthi lainnya.
  • Peninjauan ulang pendekatan Riyadh terhadap kelompok-kelompok selatan Yaman, termasuk STC.
  • Peningkatan koordinasi di sekitar Selat Bab al-Mandab untuk melindungi jalur ekspor minyak.
  • Penguatan kembali pasukan yang pernah dilatih UEA, seperti Brigade Raksasa dan National Resistance Forces.

Jika rekonsiliasi terwujud, aliansi yang lebih solid diyakini mampu menahan laju Houthi yang kini berusaha memperkuat posisi mereka dan bergerak menuju Taiz. Namun, tanpa kesepakatan politik yang jelas mengenai masa depan Yaman selatan, kerja sama militer itu berisiko rapuh dan mudah pecah kembali.

Dinamika di Yaman menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi sekadar pertempuran lokal, melainkan arena kepentingan geopolitik yang melibatkan banyak pihak. Bagi Arab Saudi, memperbaiki hubungan dengan UEA bukan hanya soal strategi militer, tetapi juga soal menjaga pengaruh dan stabilitas di kawasan. Selama Houthi terus menekan, desakan agar Arab Saudi didesak berdamai dengan Uni Emirat Arab untuk memperkuat perlawanan terhadap Houthi [titlebase] akan terus menggema, menjadi pengingat bahwa persatuan di antara negara-negara Teluk menjadi kunci menghadapi ancaman bersama.

Mungkin Anda Suka