Realita.ID – Korban banjir bandang Nepal terus bertambah, mengakibatkan lebih dari 1.130 orang tewas dan ribuan lainnya masih hilang setelah bencana dahsyat yang melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet pada 26 Agustus lalu. Banjir bandang ini tidak hanya menghancurkan infrastruktur, tetapi juga mengguncang kehidupan ribuan penduduk yang terperangkap di dalamnya.
Pemerintah Nepal melaporkan bahwa hingga saat ini, sedikitnya 1.114 jenazah telah ditemukan. Namun, angka korban hilang mencapai 3.916 orang, di mana banyak dari mereka adalah pekerja di proyek pembangkit listrik tenaga air yang terletak di area terdampak. Sementara itu, di wilayah Tibet, 16 orang dilaporkan tewas dan 546 lainnya hilang, termasuk 261 warga negara asing.
Otoritas setempat menyebutkan bahwa sekitar 12.000 orang telah diselamatkan dari area-area yang terkena dampak, dan lebih dari 21.000 personel keamanan, termasuk militer dan kepolisian, dikerahkan untuk mendukung operasi pencarian dan penyelamatan. Namun, cuaca buruk dan ancaman banjir susulan menghambat upaya penyelamatan ini.
Sejak bencana melanda, tim penyelamat telah berupaya mencari korban di dalam terowongan proyek pembangkit listrik tenaga air yang terendam. Ratusan pekerja yang sedang bertugas di dalam terowongan tersebut belum diketahui nasibnya. Di proyek PLTA Upper Trishuli-3A, tim penyelamat telah berhasil mengebor dan memompa udara untuk membuka akses ke dalam terowongan yang diperkirakan masih menyimpan banyak korban.
China juga turut memberikan bantuan kemanusiaan kepada Nepal sebagai respons terhadap bencana ini. Gelombang kedua bantuan dari China mencakup peralatan untuk pemurnian air, drone, dan peralatan pengujian DNA. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa mereka akan mengirimkan para ahli untuk membantu dalam operasi penyelamatan dan pencarian korban.
Menurut laporan dari United Nations Development Programme (UNDP), banjir ini meninggalkan lebih dari 2,4 juta ton puing yang terdiri dari reruntuhan bangunan, barang rumah tangga, dan lumpur. Proses pembersihan puing-puing ini sangat penting untuk melanjutkan pencarian korban yang masih hilang. UNDP memperingatkan bahwa puing-puing tersebut dapat menghambat upaya penyelamatan jika tidak segera ditangani.
Data terbaru menunjukkan bahwa total korban hilang di kedua wilayah mencapai 4.462 orang, mencerminkan betapa parahnya dampak bencana ini. Tim penyelamat masih bekerja keras untuk menemukan dan menyelamatkan mereka yang terjebak. Dalam proses ini, mereka menghadapi tantangan besar akibat medan yang sulit dan kondisi cuaca yang tidak menentu.
Korban banjir bandang Nepal adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang memerlukan perhatian dan dukungan dari masyarakat internasional untuk membantu pemulihan dan rehabilitasi daerah yang terkena dampak. Upaya penyelamatan dan bantuan harus terus dilakukan untuk memastikan bahwa semua yang hilang dapat ditemukan dan diidentifikasi.

