Beranda / Peristiwa

Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan

Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan
Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan

Realita.ID – PATI, Joglo Jateng – Sepanjang Januari hingga Agustus 2026 kasus kebakaran di Pati tembus 87 kejadian dan renggut satu korban jiwa. Dari laporan yang diperoleh, kebakaran ini mencakup berbagai jenis, mulai dari kebakaran rumah hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Perlindungan Masyarakat (Damkar Linmas) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati, Dwi Prasetyo, mengungkapkan bahwa kejadian kebakaran ini menjadi perhatian serius. “Jumlah kebakaran sampai Agustus sudah 87 kasus,” ujarnya.

Baca juga:

Beberapa faktor penyebab kebakaran antara lain adalah musim kemarau yang ekstrem, korsleting listrik, pembakaran sampah, serta pembakaran peking atau rumput peternak. Dwi Prasetyo menambahkan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan ada kemungkinan kasus lainnya belum tercatat.

“Kami belum dapat merinci total kerugian dari kebakaran yang terjadi, namun kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membakar sampah atau saat menggunakan listrik,” tegasnya.

Setiap individu diminta untuk memperhatikan beberapa hal saat membakar sampah, seperti arah angin dan memastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan. “Faktor kelalaian manusia sering kali menjadi penyebab utama kebakaran ini. Jangan menghidupkan api bila tidak penting dan perlunya pemakaian listrik yang aman,” tambahnya.

Baca juga:

Di sisi lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengkonfirmasi bahwa dari 87 kejadian kebakaran, satu peristiwa mengakibatkan korban jiwa. Korban tersebut adalah seorang petani tebu di Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, yang meninggal dunia akibat terjebak dalam kobaran api saat membakar lahan tebu.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu, 6 Juni 2026. Saat itu, korban yang berinisial Y (60) sedang membakar lahan tebu pascapanen. Namun, api yang berkobar membesar akibat tiupan angin kencang, dan sayangnya, korban tidak dapat melarikan diri dari kobaran api tersebut.

“Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Disarankan agar saat melakukan pembakaran lahan tebu, baik pascapanen maupun yang masih dalam tegakan, sebaiknya tidak dilakukan sendirian. Memiliki teman yang dapat membantu sangat penting, terutama dalam situasi darurat seperti ini,” jelasnya.

Baca juga:

Kejadian ini menyoroti perlunya kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang kerap memicu kebakaran. Selain itu, penting juga untuk melakukan edukasi mengenai cara yang aman dalam melakukan pembakaran agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Dengan kondisi cuaca yang semakin ekstrem, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil tindakan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Kesadaran akan keselamatan dan kepatuhan terhadap prosedur yang aman dapat membantu mengurangi risiko kebakaran yang merugikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan

Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan
Kebakaran Melanda Pati: 87 Kejadian dan Satu Korban Jiwa dalam Delapan Bulan

Realita.ID – PATI, Joglo Jateng – Sepanjang Januari hingga Agustus 2026 kasus kebakaran di Pati tembus 87 kejadian dan renggut satu korban jiwa. Dari laporan yang diperoleh, kebakaran ini mencakup berbagai jenis, mulai dari kebakaran rumah hingga kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala Bidang Pemadam Kebakaran dan Perlindungan Masyarakat (Damkar Linmas) Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pati, Dwi Prasetyo, mengungkapkan bahwa kejadian kebakaran ini menjadi perhatian serius. “Jumlah kebakaran sampai Agustus sudah 87 kasus,” ujarnya.

Baca juga:

Beberapa faktor penyebab kebakaran antara lain adalah musim kemarau yang ekstrem, korsleting listrik, pembakaran sampah, serta pembakaran peking atau rumput peternak. Dwi Prasetyo menambahkan bahwa data tersebut masih bersifat sementara dan ada kemungkinan kasus lainnya belum tercatat.

“Kami belum dapat merinci total kerugian dari kebakaran yang terjadi, namun kami mengimbau kepada masyarakat untuk lebih berhati-hati saat membakar sampah atau saat menggunakan listrik,” tegasnya.

Setiap individu diminta untuk memperhatikan beberapa hal saat membakar sampah, seperti arah angin dan memastikan api benar-benar padam sebelum ditinggalkan. “Faktor kelalaian manusia sering kali menjadi penyebab utama kebakaran ini. Jangan menghidupkan api bila tidak penting dan perlunya pemakaian listrik yang aman,” tambahnya.

Baca juga:

Di sisi lain, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pati, Martinus Budi Prasetya, mengkonfirmasi bahwa dari 87 kejadian kebakaran, satu peristiwa mengakibatkan korban jiwa. Korban tersebut adalah seorang petani tebu di Desa Wedarijaksa, Kecamatan Wedarijaksa, yang meninggal dunia akibat terjebak dalam kobaran api saat membakar lahan tebu.

Peristiwa tragis ini terjadi pada Sabtu, 6 Juni 2026. Saat itu, korban yang berinisial Y (60) sedang membakar lahan tebu pascapanen. Namun, api yang berkobar membesar akibat tiupan angin kencang, dan sayangnya, korban tidak dapat melarikan diri dari kobaran api tersebut.

“Ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua. Disarankan agar saat melakukan pembakaran lahan tebu, baik pascapanen maupun yang masih dalam tegakan, sebaiknya tidak dilakukan sendirian. Memiliki teman yang dapat membantu sangat penting, terutama dalam situasi darurat seperti ini,” jelasnya.

Baca juga:

Kejadian ini menyoroti perlunya kesadaran dan kewaspadaan masyarakat dalam menghadapi musim kemarau yang kerap memicu kebakaran. Selain itu, penting juga untuk melakukan edukasi mengenai cara yang aman dalam melakukan pembakaran agar kejadian serupa tidak terulang di kemudian hari.

Dengan kondisi cuaca yang semakin ekstrem, masyarakat diharapkan dapat lebih bijak dalam mengambil tindakan yang berpotensi menimbulkan kebakaran. Kesadaran akan keselamatan dan kepatuhan terhadap prosedur yang aman dapat membantu mengurangi risiko kebakaran yang merugikan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.