Realita.ID – Kabut asap pekat yang masih menyelimuti kawasan Ngaliyan, Kota Semarang, sejak kebakaran di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Jatibarang pada Rabu malam, 30 September 2026, terus menimbulkan dampak serius bagi warga sekitar. Peristiwa Asap TPA Jatibarang Teror Sekolah Siswa SDN Ngaliyan 01 Dipulangkan menjadi bukti nyata betapa buruknya kualitas udara yang menghantui aktivitas pendidikan di wilayah tersebut. Pada Jumat, 2 Oktober 2026, ratusan siswa SD Negeri Ngaliyan 01 terpaksa menghentikan kegiatan belajar mengajar lebih awal karena asap yang masuk hingga ke ruang-ruang kelas disertai bau menyengat yang mengganggu pernapasan.
Kepala SDN Ngaliyan 01, Ngatiningsih, mengungkapkan bahwa kondisi asap pada Jumat pagi benar-benar mengkhawatirkan. Kabut asap tidak hanya menyelimuti halaman sekolah, tetapi juga turun hingga ke Lapangan Sulanji yang berada di sekitar lingkungan sekolah. “Memang tadi asap tebal sekali menyelimuti. Bahkan sampai di Lapangan Sulanji, asapnya benar-benar turun ke bawah,” ujarnya saat ditemui di sekolah.
Meskipun demikian, siswa kelas 6 masih harus mengikuti simulasi program asesmen standar Kota Semarang pada hari itu. Mereka tetap diminta menggunakan masker selama kegiatan berlangsung, dan setelah simulasi selesai, para siswa kelas 6 juga langsung dipulangkan. Langkah ini diambil sebagai bentuk kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat paparan asap yang terus berlanjut.
Peristiwa Asap TPA Jatibarang Teror Sekolah Siswa SDN Ngaliyan 01 Dipulangkan bukan kali pertama terjadi. Sejak kebakaran hebat melanda TPA Jatibarang pada Rabu malam, asap pekat terus menyebar ke berbagai arah, terutama ke kawasan permukiman dan fasilitas umum di sekitarnya. Warga Ngaliyan mengeluhkan bau menyengat yang membuat mata perih dan saluran pernapasan terganggu, terutama bagi anak-anak dan lansia yang lebih rentan terhadap polusi udara.
Dinas Pendidikan Kota Semarang melalui Yudha Wijayanto menegaskan bahwa pihaknya akan terus memantau perkembangan kondisi udara di wilayah terdampak. Koordinasi dengan dinas terkait, termasuk Dinas Lingkungan Hidup dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah, dilakukan untuk memastikan langkah mitigasi yang tepat. Jika kondisi asap masih pekat pada hari-hari berikutnya, tidak menutup kemungkinan kebijakan pembelajaran jarak jauh akan diperpanjang atau diperluas ke sekolah-sekolah lain di kawasan Ngaliyan.
Ngatiningsih berharap kondisi asap segera membaik sehingga kegiatan pembelajaran dapat kembali normal pada Senin, 5 Oktober 2026. Ia juga mengimbau para orang tua untuk memantau kesehatan anak-anak mereka selama berada di rumah dan segera mencari bantuan medis jika muncul gejala gangguan pernapasan. “Kami berharap situasi ini cepat berlalu. Anak-anak adalah prioritas utama, jadi keselamatan mereka harus di atas segalanya,” tambahnya.
Dampak dari insiden ini tidak hanya dirasakan oleh dunia pendidikan, tetapi juga oleh aktivitas ekonomi dan sosial warga sekitar. Pasar, warung, dan berbagai usaha kecil di sekitar Ngaliyan melaporkan penurunan jumlah pembeli karena banyak warga memilih tinggal di rumah untuk menghindari paparan asap. Beberapa warga bahkan mulai membagikan masker secara sukarela kepada tetangga dan pengendara yang melintas.
Pemerintah Kota Semarang diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk menangani sumber asap, termasuk memastikan pemadaman total di TPA Jatibarang serta mengantisipasi potensi kebakaran serupa di masa depan. Pengelolaan sampah yang lebih baik dan sistem deteksi dini kebakaran di area TPA menjadi krusial agar peristiwa Asap TPA Jatibarang Teror Sekolah Siswa SDN Ngaliyan 01 Dipulangkan tidak terulang kembali.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada informasi resmi mengenai berapa lama proses pemadaman akan berlangsung. Namun, yang jelas, kualitas udara di sekitar Ngaliyan masih dalam kondisi tidak sehat. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat bepergian, dan menjaga kesehatan dengan konsumsi air putih yang cukup serta makanan bergizi.
Kasus Asap TPA Jatibarang Teror Sekolah Siswa SDN Ngaliyan 01 Dipulangkan menjadi pengingat penting bahwa pengelolaan lingkungan dan infrastruktur publik harus menjadi perhatian serius. Pendidikan adalah hak setiap anak, dan situasi darurat seperti ini seharusnya tidak menjadi penghalang. Semua pihak, mulai dari pemerintah, pengelola TPA, hingga masyarakat, perlu bersinergi untuk menciptakan lingkungan yang aman dan sehat bagi generasi penerus bangsa.
Kesimpulannya, kebakaran TPA Jatibarang yang menghasilkan asap pekat telah memaksa siswa SDN Ngaliyan 01 dipulangkan lebih awal dan pembelajaran dialihkan ke rumah. Peristiwa ini menyoroti perlunya penanganan cepat serta pencegahan berkelanjutan agar dampak serupa tidak terus mengancam kesehatan dan pendidikan anak-anak di Kota Semarang.






