Realita.ID – Rupiah hari ini kembali menjadi sorotan setelah nilai tukarnya menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pada perdagangan awal Oktober 2026, rupiah sempat menyentuh Rp18.031, meskipun akhirnya ditutup menguat ke Rp17.882 pada Jumat (2/10/2026). Pergerakan ini mencerminkan tekanan global yang masih kuat, terutama dari penguatan dolar AS dan tingginya imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Berdasarkan data pasar, indeks dolar AS berada di sekitar 101,4, sementara yield Treasury tenor 10 tahun bertahan di level 5,2 persen. Kondisi ini memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia. Bank Indonesia (BI) sebelumnya telah mengidentifikasi beberapa faktor yang menekan rupiah, seperti meningkatnya kebutuhan dolar dari importir menjelang akhir kuartal III, serta risiko fiskal dan kenaikan harga minyak dunia.
Meski demikian, harapan muncul dari sinyal The Fed. Sejumlah pejabat Federal Reserve, termasuk Wakil Ketua Philip Jefferson, menekankan perlunya sikap hati-hati dalam menaikkan suku bunga. Bahkan, Presiden Fed Minneapolis Neel Kashkari masih mendorong kenaikan lebih lanjut untuk mengendalikan inflasi. Ketidakpastian ini membuat pasar fluktuatif, namun rupiah hari ini berhasil menguat 84 poin atau 0,47 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Di sisi lain, kekhawatiran terhadap defisit APBN 2026 yang melebar turut membayangi. Menteri Keuangan memproyeksikan defisit naik dari target awal 2,68 persen menjadi 2,85 persen PDB, dengan pembiayaan utang neto sekitar Rp868 triliun. Realisasi defisit hingga Agustus 2026 tercatat Rp240,1 triliun atau 0,93 persen PDB, namun belanja pemerintah biasanya menumpuk di kuartal IV. Kondisi ini memperbesar kebutuhan utang dan mempersempit ruang BI untuk menurunkan suku bunga, yang pada akhirnya memberi tekanan tambahan pada rupiah hari ini.
Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif dan berpotensi melemah pada perdagangan Senin. Namun, ia juga mencatat bahwa ekspektasi kenaikan suku bunga AS yang mereda dapat menjadi katalis positif. Investor kini menanti data inflasi AS dan pernyataan lanjutan dari The Fed untuk menentukan arah selanjutnya.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah hari ini berdampak pada kenaikan harga barang impor dan bahan baku, yang bisa memicu inflasi. Importir dan pelaku usaha perlu meningkatkan lindung nilai (hedging) untuk mengantisipasi volatilitas. Sementara itu, eksportir dapat memanfaatkan momentum ini untuk meningkatkan daya saing produk di pasar global.
Secara keseluruhan, pergerakan rupiah hari ini mencerminkan kompleksitas tantangan ekonomi global dan domestik. Meskipun ada ruang penguatan jangka pendek, tekanan struktural dari defisit fiskal dan kebijakan moneter AS masih membayangi. Pemerintah dan BI diharapkan terus bersinergi menjaga stabilitas nilai tukar, sambil memperkuat fundamental ekonomi. Ke depan, rupiah hari ini akan sangat bergantung pada sentimen global dan respons kebijakan yang tepat.





