Peristiwa

Krisis Air Melanda Karangampel Kudus: Warga Numpang Mandi hingga Bergadang Demi Setetes Air

Realita.ID – Baru Pertama Kali Rasakan Kekeringan Parah Warga Karangampel Kudus Harus Numpang Mandi di Rumah Mertua menjadi kenyataan pahit yang harus dijalani Siti Juarini, Ketua RT 3/RW 5, bersama warga lainnya di Desa Karangampel, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus. Kekeringan yang melanda sejak Agustus 2026 ini memaksa mereka mengubah kebiasaan sehari-hari, termasuk mencari air hingga ke luar desa. Juarini mengaku harus mandi di rumah mertuanya di Garung Lor karena sumur bor di rumahnya tidak lagi mengeluarkan air yang cukup.

“Kalau mandi saya di Garung Lor, rumah mertua. Alhamdulillah tidak perlu membeli air,” ujar Juarini saat ditemui, Rabu (30/9/2026). Ia menuturkan, sebelum kekeringan melanda, warga tidak pernah mengalami kesulitan air separah ini. Baru Pertama Kali Rasakan Kekeringan Parah Warga Karangampel Kudus Harus Numpang Mandi di Rumah Mertua membuat mereka kewalahan, terutama karena sumber air utama hanya mengandalkan sumur bor yang debitnya terus menurun.

Baca juga:

Kondisi sumur bor saat ini sangat memprihatinkan. Air hanya mengalir sebentar, kemudian berhenti total selama satu hingga dua jam. “Airnya tidak terlalu lancar, sedikit, kadang mampet. Nanti satu jam, dua jam tidak ada air,” keluh Juarini. Akibatnya, warga harus mengatur penggunaan air dengan sangat ketat. Air lebih diprioritaskan untuk kebutuhan ringan seperti mencuci piring, sementara mandi dan mencuci pakaian menjadi aktivitas yang sulit dilakukan.

Kesulitan ini tidak dialami satu atau dua rumah saja. Hampir seluruh warga di lingkungan RT 3/RW 5 merasakan hal serupa. Beberapa di antara mereka bahkan rela bergadang hingga tengah malam demi mendapatkan air. “Ada tetangga yang kadang bergadang mengambil air sampai jam satu malam. Ditampung dua atau tiga ember untuk besok, terutama kalau anaknya mau berangkat sekolah,” ungkap Juarini. Setelah air yang ditampung habis, warga kembali menunggu beberapa jam hingga sumur kembali mengeluarkan air. Rutinitas ini berlangsung hampir setiap hari selama kekeringan.

Di tengah keterbatasan tersebut, bantuan air bersih yang datang sedikit meringankan beban warga. Juarini menyebut bantuan tersebut merupakan yang pertama kali diterima sejak kesulitan air melanda. “Alhamdulillah semenjak ada air bersih ini warga terbantu, agak meringankan,” katanya. Meski demikian, bantuan tersebut belum sepenuhnya menyelesaikan masalah karena kebutuhan air terus meningkat setiap hari.

Baca juga:

Sebelumnya, warga tidak pernah melaporkan kesulitan air kepada pemerintah desa maupun kecamatan. Laporan baru dilakukan setelah debit sumur bor terus menurun drastis. Pada siang hari, suasana lingkungan RT 3/RW 5 terlihat sepi karena sebagian besar warga bekerja, termasuk di perusahaan rokok Djarum. Namun, ketika malam tiba, aktivitas mencari air justru meningkat.

Juarini berharap kekeringan seperti ini tidak terulang di tahun-tahun mendatang. Ia menekankan bahwa keterbatasan air tidak hanya menyulitkan aktivitas rumah tangga, tetapi juga menguras waktu dan tenaga. “Semoga tahun ini tidak seperti ini lagi. Tahun depan jangan sampai seperti sekarang. Ini baru pertama kali kami susah air,” pungkasnya. Baru Pertama Kali Rasakan Kekeringan Parah Warga Karangampel Kudus Harus Numpang Mandi di Rumah Mertua menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan sumber daya air yang lebih baik, terutama di musim kemarau.

Krisis air di Karangampel mencerminkan persoalan yang lebih luas di Kudus dan wilayah Jawa Tengah lainnya. Perubahan iklim dan eksploitasi air tanah yang berlebihan diduga menjadi penyebab utama. Pemerintah daerah diharapkan segera mengambil langkah konkret, seperti memperluas jaringan PDAM, membuat sumur resapan, dan memberikan bantuan air bersih secara rutin. Tanpa intervensi, warga akan terus bergantung pada bantuan dan harus mengorbankan waktu serta kenyamanan hanya untuk mendapatkan air.

Baca juga:

Kisah Baru Pertama Kali Rasakan Kekeringan Parah Warga Karangampel Kudus Harus Numpang Mandi di Rumah Mertua ini juga menyoroti solidaritas warga. Meski dalam kesulitan, mereka saling membantu dan berbagi informasi tentang ketersediaan air. Namun, solidaritas saja tidak cukup. Diperlukan solusi jangka panjang agar warga tidak lagi mengalami kekeringan parah seperti ini. Harapan Juarini dan warga lainnya adalah agar tahun depan mereka bisa mandi di rumah sendiri, tanpa harus menumpang di rumah mertua atau bergadang hingga dini hari.

Mungkin Anda Suka