Beranda / Nasional

Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng

Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng
Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng

Realita.ID – Masyarakat Jawa Tengah dikejutkan dengan pernyataan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang mempertanyakan urgensi dari proyek energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran. Hal ini terjadi di tengah berita baik pasokan listrik di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengalami surplus sebesar 44,94 persen dengan kapasitas terpasang mencapai 6.400 MW, sedangkan beban puncak hanya 4.200 MW. Dengan surplus mencapai 2.200 MW, pertanyaan mengenai kebutuhan untuk menambah pembangkit listrik baru pun mengemuka.

Deputi Direktur Walhi Jawa Tengah, Nur Colis, menjelaskan bahwa dalam kondisi kelebihan pasokan listrik, tidak ada urgensi untuk menambah pembangkit listrik berskala besar, terutama di kawasan yang memiliki nilai ekologis yang tinggi. “Kondisi ini menunjukkan bahwa proyek geothermal di Gunung Ungaran tidak hanya tidak mendesak, tetapi juga berisiko tinggi terhadap lingkungan,” ujar Nur Colis dalam konferensi pers yang berlangsung pada Jumat, 4 September 2026.

Baca juga:

Salah satu alasan utama penolakan ini adalah potensi ancaman terhadap kelestarian Candi Gedong Songo, sebuah situs cagar budaya yang penting bagi sejarah dan pariwisata lokal. Proyek ini berpotensi mengganggu ekosistem di sekitarnya, yang merupakan sumber kehidupan bagi warga. Nur Colis menyatakan, “Aktivitas pengeboran yang direncanakan bisa merusak habitat dan menimbulkan risiko pencemaran terhadap sumber air bersih bagi masyarakat setempat.”

Rencana proyek ini, menurut Walhi, mencakup kegiatan yang melibatkan pembukaan lahan yang luas, mobilisasi alat berat, dan pengeboran dalam. Semua ini berpotensi menimbulkan getaran seismik yang dapat merusak struktur geologi di kawasan tersebut. Selain itu, ada risiko pelepasan gas beracun, seperti hidrogen sulfida, yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Baca juga:

Dengan kondisi surplus listrik yang ada, Walhi mengajak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali kebijakan energi yang mengedepankan keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. “Kita harus memikirkan masa depan dan tidak hanya fokus pada kebutuhan energi jangka pendek. Energi terbarukan yang ramah lingkungan seharusnya menjadi prioritas utama,” tambah Nur Colis.

Lebih jauh, Walhi juga mengingatkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil terkait proyek yang dapat mempengaruhi lingkungan dan kehidupan mereka. Partisipasi masyarakat dinilai sangat penting agar keputusan yang diambil dapat mencerminkan kebutuhan dan aspirasi warga yang terkena dampak langsung dari proyek tersebut.

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan energi yang terus meningkat, penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan mengembangkan kebijakan yang tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga pada pelestarian lingkungan hidup. Proyek geothermal di Gunung Ungaran harus dipertimbangkan dengan seksama, mengingat ketersediaan energi yang sudah lebih dari cukup dan potensi risiko yang mengancam ekosistem serta budaya lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng

Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng
Walhi Soroti Proyek Geothermal Gunung Ungaran di Tengah Surplus Listrik Jateng

Realita.ID – Masyarakat Jawa Tengah dikejutkan dengan pernyataan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) yang mempertanyakan urgensi dari proyek energi panas bumi (geothermal) di kawasan Gunung Ungaran. Hal ini terjadi di tengah berita baik pasokan listrik di wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang mengalami surplus sebesar 44,94 persen dengan kapasitas terpasang mencapai 6.400 MW, sedangkan beban puncak hanya 4.200 MW. Dengan surplus mencapai 2.200 MW, pertanyaan mengenai kebutuhan untuk menambah pembangkit listrik baru pun mengemuka.

Deputi Direktur Walhi Jawa Tengah, Nur Colis, menjelaskan bahwa dalam kondisi kelebihan pasokan listrik, tidak ada urgensi untuk menambah pembangkit listrik berskala besar, terutama di kawasan yang memiliki nilai ekologis yang tinggi. “Kondisi ini menunjukkan bahwa proyek geothermal di Gunung Ungaran tidak hanya tidak mendesak, tetapi juga berisiko tinggi terhadap lingkungan,” ujar Nur Colis dalam konferensi pers yang berlangsung pada Jumat, 4 September 2026.

Baca juga:

Salah satu alasan utama penolakan ini adalah potensi ancaman terhadap kelestarian Candi Gedong Songo, sebuah situs cagar budaya yang penting bagi sejarah dan pariwisata lokal. Proyek ini berpotensi mengganggu ekosistem di sekitarnya, yang merupakan sumber kehidupan bagi warga. Nur Colis menyatakan, “Aktivitas pengeboran yang direncanakan bisa merusak habitat dan menimbulkan risiko pencemaran terhadap sumber air bersih bagi masyarakat setempat.”

Rencana proyek ini, menurut Walhi, mencakup kegiatan yang melibatkan pembukaan lahan yang luas, mobilisasi alat berat, dan pengeboran dalam. Semua ini berpotensi menimbulkan getaran seismik yang dapat merusak struktur geologi di kawasan tersebut. Selain itu, ada risiko pelepasan gas beracun, seperti hidrogen sulfida, yang dapat membahayakan kesehatan manusia dan makhluk hidup lainnya.

Baca juga:

Dengan kondisi surplus listrik yang ada, Walhi mengajak pemerintah untuk mempertimbangkan kembali kebijakan energi yang mengedepankan keberlanjutan dan perlindungan lingkungan. “Kita harus memikirkan masa depan dan tidak hanya fokus pada kebutuhan energi jangka pendek. Energi terbarukan yang ramah lingkungan seharusnya menjadi prioritas utama,” tambah Nur Colis.

Lebih jauh, Walhi juga mengingatkan pentingnya melibatkan masyarakat dalam setiap keputusan yang diambil terkait proyek yang dapat mempengaruhi lingkungan dan kehidupan mereka. Partisipasi masyarakat dinilai sangat penting agar keputusan yang diambil dapat mencerminkan kebutuhan dan aspirasi warga yang terkena dampak langsung dari proyek tersebut.

Dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan energi yang terus meningkat, penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi dan mengembangkan kebijakan yang tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas energi, tetapi juga pada pelestarian lingkungan hidup. Proyek geothermal di Gunung Ungaran harus dipertimbangkan dengan seksama, mengingat ketersediaan energi yang sudah lebih dari cukup dan potensi risiko yang mengancam ekosistem serta budaya lokal.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.