Realita.ID – Laporan Non-Farm Payroll (NFP) yang akan dirilis Jumat ini menjadi sorotan utama pasar keuangan global. Setelah data tenaga kerja AS terbaru menunjukkan perlambatan dalam perekrutan, pelaku pasar menanti apakah NFP akan memberikan kejutan yang mampu mengubah arah kebijakan suku bunga Federal Reserve. Emas dan perak, yang selama sepekan bergerak dalam kisaran terbatas, kini berada di persimpangan menjelang rilis data krusial tersebut.
Data terbaru dari Challenger, Gray & Christmas menunjukkan bahwa PHK di AS pada September mencapai 43.281, turun 18% dari Agustus dan 20% dari tahun lalu. Ini merupakan angka terendah untuk bulan September sejak 2022. Sektor teknologi masih memimpin dengan 10.799 pemutusan hubungan kerja, naik 77% dari Agustus. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah rencana perekrutan yang hanya mencapai 90.787, turun 23% dari tahun lalu dan menjadi yang terendah sejak 2011. Challenger juga mencatat tidak adanya lonjakan perekrutan musiman menjelang liburan, yang biasanya terjadi.
Kombinasi PHK yang melandai namun perekrutan yang lemah menciptakan gambaran pasar tenaga kerja yang lesu. Analis memperkirakan NFP September akan menunjukkan penambahan sekitar 90.000 pekerjaan, dengan tingkat pengangguran tetap di 4,1%. Data ADP yang dirilis sehari sebelumnya menunjukkan kenaikan 90.000 pekerjaan swasta, di atas ekspektasi 70.000. Meski ADP bukan proksi langsung NFP, angka tersebut memberikan sinyal bahwa perusahaan cenderung hati-hati, bukan melakukan pemutusan besar-besaran.
Pasar obligasi menjadi perhatian utama. Imbal hasil Treasury 10 tahun mengancam menembus level 5,30%, didorong kekhawatiran inflasi, harga energi, dan fiskal. Jika NFP kuat, penjual obligasi akan semakin agresif dan menekan ekuitas. Sebaliknya, laporan yang lemah mungkin memberikan sedikit kelegaan, tetapi tekanan di sisi panjang kurva obligasi tetap besar. Dibutuhkan laporan yang benar-benar lemah untuk mengubah nada pasar obligasi.
Di pasar komoditas, emas (XAU/USD) sempat melonjak setelah data PCE yang lebih lemah dari perkiraan, namun kemudian menghapus seluruh kenaikan dan berbalik turun. Kenaikan tersebut dinilai tidak berdasar karena data PCE dipengaruhi oleh perubahan metodologi tahunan Biro Analisis Ekonomi (BEA), bukan karena pelemahan inflasi yang sesungguhnya. Dalam jangka pendek, harga emas kemungkinan bergerak sideways, dengan negosiasi AS-Iran yang berlarut-larut dan peluang kenaikan suku bunga Oktober yang mengecil membatasi sisi bawah. Namun, kebuntuan yang berkepanjangan atau berita geopolitik negatif dapat menambah tekanan jual.
Analisis teknikal menunjukkan emas sedang mundur dari level terendah Senin. Target alami penjual adalah level 3.885, yang juga merupakan garis tren naik utama. Jika harga mencapai level tersebut, pembeli diperkirakan masuk dengan risiko di bawah garis tren untuk mengincar rekor tertinggi baru. Sebaliknya, penembusan ke bawah dapat memperpanjang penurunan menuju 3.500. Pada grafik 4 jam, garis tren turun membatasi struktur bearish. Pembeli perlu melihat penembusan ke atas untuk koreksi menuju 4.500.
Perak (XAG/USD) diperdagangkan di sekitar $60,685, naik 0,50% pada candle 4 jam. Logam mulia ini juga menanti data NFP yang diperkirakan menunjukkan penambahan 89.000 pekerjaan, turun dari 162.000 sebelumnya. Data upah per jam rata-rata diperkirakan naik 0,3% month-on-month. Bagi perak yang dihargai dalam dolar, data pekerjaan yang panas cenderung mengangkat dolar dan imbal hasil, yang menekan logam. Sebaliknya, data yang lembut akan mendorong perak. Namun, ini hanya kecenderungan, bukan aturan pasti.
Di sisi lain, Partai Federasi Nasional (NFP) Fiji kembali menjadi sorotan. Pemimpin NFP dan mantan Wakil Perdana Menteri, Profesor Biman Prasad, membela rekam jejak partainya dalam koalisi. Ia menegaskan bahwa sebagai mitra minoritas, NFP tidak dapat mempengaruhi setiap keputusan pemerintah. “Secara alami, dalam koalisi, kami adalah partai minoritas dan tidak selalu bisa mempengaruhi semua yang terjadi,” ujarnya dalam Konvensi NFP di Suva. Prasad menekankan bahwa kompromi dan tanggung jawab bersama adalah hal fundamental dalam pemerintahan koalisi. Presiden NFP, Parmod Chand, menambahkan bahwa partai tetap berkomitmen melayani negara dan melanjutkan warisan para pemimpin sebelumnya.
Kembali ke pasar keuangan, volatilitas diperkirakan meningkat menjelang rilis NFP. Selain data tenaga kerja, pidato anggota FOMC Cook dan Logan serta data CPI zona Euro juga akan menjadi perhatian. Pasar Asia, termasuk China, libur bank holiday, sehingga likuiditas bisa lebih tipis. Para pedagang disarankan mencermati level support dan resistance kunci pada emas dan perak, serta bersiap menghadapi lonjakan volatilitas pasca-NFP.
Secara keseluruhan, NFP kali ini bukan sekadar angka. Ia adalah penentu apakah ekspektasi pemangkasan suku bunga akan menguat atau justru sebaliknya. Bagi emas dan perak, arah jangka pendek akan sangat bergantung pada seberapa jauh data aktual menyimpang dari konsensus. Sementara itu, di Fiji, NFP menunjukkan bahwa politik koalisi menuntut kompromi, sebuah pelajaran yang juga relevan bagi pasar yang selalu mencari keseimbangan antara data dan ekspektasi.







![Ada 3 Demo di Jakarta Hari Ini, Kelompok Mana Saja yang Turun ke Jalan? [titlebase]](https://www.realita.id/wp-content/uploads/2026/10/ada-3-demo-di-jakarta-hari-ini-kelompok-mana-saja-yang-turun-ke-jalan-titlebase-640x400.webp)
