Realita.ID – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menegaskan bahwa dirinya tak takut dicopot Menteri HAM saya terkenal karena kerja, menanggapi isu reshuffle kabinet yang kembali mencuat. Pernyataan ini disampaikan Pigai saat berada di Denpasar, Bali, Jumat (14/3/2025). Dengan tegas ia menyatakan tidak ada rasa khawatir sedikit pun terhadap kemungkinan pergantian posisi di kabinet. “Tidak ada (takut). Kalau saya takut, untuk apa saya ke Bali? Mending tunggu, lihat-lihat handphone di Jakarta saja. Nunggu kan biasa saja,” ujarnya.
Pigai menjelaskan bahwa keputusan mengenai pergantian menteri merupakan hak prerogatif Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, penilaian terhadap kinerja para menteri sepenuhnya menjadi kewenangan Presiden, yang memiliki kapasitas dan otoritas untuk mengevaluasi pencapaian setiap anggota kabinet. Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak mempersoalkan kemungkinan perubahan posisi tersebut.
“Pigai terkenal karena kerja. Mana ada orang terkenal kalau tanpa kerja, diam-diam. Yang menilai itu Presiden. Presiden yang memiliki kapasitas, otoritas, hak prerogatif untuk menilai KPI (Key Performance Index) para menteri,” tegasnya. Pernyataan ini sekaligus menegaskan sikap tak takut dicopot Menteri HAM saya terkenal karena kerja yang menjadi ciri khasnya.
Lebih lanjut, Pigai menekankan bahwa evaluasi terhadap menteri semestinya didasarkan pada data dan kinerja, bukan hasil survei maupun penilaian wartawan. “Pak Prabowo itu intelektual. Intelektual itu menilai berbasis kepada data. Oleh karena itulah penilaian-penilaian itu kepada Presiden, bukan oleh survei, bukan oleh wartawan,” katanya. Ia percaya bahwa Presiden akan menilai secara objektif berdasarkan capaian kerja nyata.
Meskipun isu reshuffle terus bergulir, Pigai mengaku tetap menjalankan tugasnya tanpa memikirkan kemungkinan dirinya diganti. Ia menyerahkan sepenuhnya penilaian atas kinerjanya kepada Presiden. Sikap ini mencerminkan komitmennya untuk terus bekerja maksimal di kementerian yang dipimpinnya. “Saya tidak perlu memikirkan hal itu. Yang penting saya kerja,” tambahnya.
Pernyataan Pigai ini bukan pertama kali disampaikannya. Sebelumnya, ia juga pernah menegaskan bahwa dirinya tidak takut dicopot dan siap dievaluasi. Namun, kali ini ia menekankan bahwa kerja nyata adalah bukti utama. Tak takut dicopot Menteri HAM saya terkenal karena kerja menjadi mantra yang selalu ia ulang untuk menepis keraguan publik terhadap kinerjanya.
Dalam konteks politik nasional, isu reshuffle kabinet memang kerap menjadi spekulasi menjelang evaluasi kinerja menteri. Presiden Prabowo Subianto diketahui akan melakukan penilaian terhadap para menteri berdasarkan Key Performance Index (KPI) yang telah ditetapkan. Pigai menyambut baik hal tersebut dan menganggapnya sebagai mekanisme yang wajar dalam pemerintahan.
Pengamat politik menilai bahwa pernyataan Pigai menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi. Namun, mereka juga mengingatkan bahwa kinerja menteri akan terus dipantau oleh publik. “Pigai memang dikenal vokal dan kontroversial, tetapi ia juga menunjukkan etos kerja yang tinggi. Publik akan menilai dari hasil, bukan sekadar retorika,” ujar seorang analis.
Di sisi lain, Kementerian HAM di bawah kepemimpinan Pigai telah meluncurkan berbagai program, termasuk penguatan perlindungan HAM di daerah, penyuluhan, dan advokasi. Meski demikian, tantangan tetap ada, terutama dalam hal koordinasi dengan lembaga lain. Pigai mengaku tidak gentar dan terus mendorong percepatan program.
Menanggapi isu reshuffle, Pigai menegaskan bahwa dirinya tidak akan terpengaruh. “Saya fokus pada tugas. Kalau memang harus diganti, itu hak Presiden. Yang jelas, saya sudah bekerja maksimal,” pungkasnya. Ia juga mengingatkan bahwa penilaian terhadap menteri sebaiknya dilakukan secara komprehensif, bukan hanya berdasarkan opini sesaat.
Dengan pernyataan ini, Pigai kembali menegaskan posisinya sebagai menteri yang siap bekerja dan tidak gentar menghadapi dinamika politik. Tak takut dicopot Menteri HAM saya terkenal karena kerja menjadi cerminan sikapnya yang optimistis dan berorientasi pada hasil. Publik pun menanti apakah kinerjanya akan sesuai dengan klaim tersebut.
Sebagai penutup, sikap Natalius Pigai yang tidak takut dicopot dan menekankan kerja nyata patut menjadi contoh bagi pejabat publik lainnya. Evaluasi kinerja adalah hal biasa dalam pemerintahan, dan yang terpenting adalah kontribusi nyata bagi masyarakat. Dengan demikian, isu reshuffle seharusnya tidak menjadi beban, melainkan motivasi untuk terus meningkatkan kualitas kerja. Tak takut dicopot Menteri HAM saya terkenal karena kerja adalah pesan bahwa integritas dan dedikasi adalah kunci.


