Olahraga

Gus Nabil Temui Konjen RI di Hong Kong, Dorong Pembentukan Federasi Pencak Silat

Gus Nabil Temui Konjen RI di Hong Kong, Dorong Pembentukan Federasi Pencak Silat
Gus Nabil Temui Konjen RI di Hong Kong, Dorong Pembentukan Federasi Pencak Silat
Daftar Isi
  1. Strategi Internasionalisasi Pencak Silat
  2. Pagar Nusa dan Pembinaan PMI di Hong Kong
  3. Konsistensi di Hong Kong Flower Show
  4. Momentum Hari Batik Nasional
  5. Lanjutan Konsolidasi dari Taiwan

Realita.ID – JAKARTA – Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa sekaligus Wakil Ketua Umum PB IPSI, Muchamad Nabil Haroen atau yang akrab disapa Gus Nabil, melakukan langkah strategis dalam memperkuat eksistensi pencak silat di kancah global. Dalam lawatannya ke Hong Kong, Gus Nabil bertemu dengan Konsul Jenderal Republik Indonesia, Andi Ardiansyah, di Kantor KJRI Hong Kong pada Jumat, 2 Oktober 2026. Pertemuan tersebut menjadi momentum penting karena dalam kesempatan itu, Gus Nabil secara resmi menyampaikan dorongan untuk pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong. Agenda ini menjadi bagian dari upaya besar untuk mentransformasi pencak silat dari sekadar apresiasi budaya menjadi institusi olahraga yang mapan di tingkat internasional.

Pertemuan yang berlangsung mulai pukul 13.30 waktu setempat itu membahas berbagai topik krusial, mulai dari pengembangan pencak silat di Hong Kong, pembinaan Pekerja Migran Indonesia (PMI), diplomasi budaya, hingga visi besar Pencak Silat Road to Olympics. Dalam pertemuan tersebut, Gus Nabil didampingi oleh Ketua PP Pagar Nusa yang juga menjabat sebagai Komandan Komando Pasukan Inti Pagar Nusa (Dankopasnas), Malik, serta Ketua PCI Pagar Nusa Hong Kong, Syifa Wantiningsih. Sementara itu, Konjen Andi Ardiansyah didampingi jajaran pejabat dan staf KJRI Hong Kong.

Strategi Internasionalisasi Pencak Silat

Gus Nabil menegaskan bahwa pengembangan pencak silat di luar negeri tidak cukup hanya bertumpu pada komunitas Indonesia semata. Menurutnya, pencak silat harus semakin masuk dan mengakar di tengah masyarakat lokal. Hal ini menjadi kunci utama agar pencak silat dapat diterima secara luas dan berkelanjutan. “Langkah strategis kita berikutnya adalah mentransformasi apresiasi budaya ini menjadi institusionalisasi olahraga, yaitu dengan menginisiasi pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong serta melatih warga lokal,” kata Gus Nabil dalam pertemuan tersebut.

Langkah tersebut merupakan bagian dari peta jalan PB IPSI untuk memperkuat ekosistem pencak silat internasional menuju Olimpiade. Gus Nabil menekankan bahwa pihaknya ingin agar bukan hanya orang Indonesia yang berlatih pencak silat di luar negeri, tetapi juga warga lokal harus semakin banyak belajar, menjadi pelatih, menjadi atlet, dan pada akhirnya ikut membangun organisasi pencak silat di tempat mereka sendiri.

Pagar Nusa dan Pembinaan PMI di Hong Kong

Dalam pertemuan yang sama, juga dibahas perkembangan Pagar Nusa di Hong Kong. PCI Pagar Nusa Hong Kong saat ini telah menaungi dua Pengurus Anak Cabang (PAC). Latihan dilakukan secara rutin pada hari libur kerja. Victoria Park menjadi salah satu pusat kegiatan, ditambah dua titik latihan lainnya di Hong Kong. Mayoritas kader Pagar Nusa di Hong Kong merupakan Pekerja Migran Indonesia (PMI).

Gus Nabil menilai bahwa latihan pencak silat tidak hanya menjadi sarana bela diri, tetapi juga ruang pembinaan karakter, kedisiplinan, persaudaraan, dan kegiatan positif bagi para PMI. “Kehadiran Pagar Nusa dan IPSI di Hong Kong bukan sekadar wadah pembinaan karakter bagi sahabat-sahabat Pekerja Migran Indonesia di hari libur mereka, melainkan instrumen aktif soft-power diplomacy Indonesia di panggung internasional,” tegasnya.

Ia juga meminta seluruh kader Pagar Nusa di Hong Kong tetap menjaga ketertiban, menghormati regulasi setempat, dan membawa nama baik Indonesia. Hal ini penting agar keberadaan mereka tidak hanya membanggakan, tetapi juga memberikan kontribusi positif bagi masyarakat setempat.

Konsistensi di Hong Kong Flower Show

Pagar Nusa telah tiga kali berturut-turut berpartisipasi dalam Hong Kong Flower Show di Victoria Park. Dalam ajang tersebut, Pagar Nusa menampilkan Seni Wiraloka, Koreografi Salam Pagar Nusa, serta jurus gabungan dengan iringan musik Nusantara. Prestasi ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan Nusantara mampu beradaptasi serta diterima dengan hangat oleh masyarakat global.

“Konsistensi kita di ajang bergengsi seperti Hong Kong Flower Show membuktikan bahwa nilai-nilai kebangsaan dan kebudayaan Nusantara mampu beradaptasi serta diterima dengan hangat oleh masyarakat global,” kata Gus Nabil.

Konjen RI di Hong Kong, Andi Ardiansyah, memberikan apresiasi terhadap kiprah tersebut. “KJRI Hong Kong memberikan apresiasi setinggi-tingginya atas konsistensi dan peran aktif Pagar Nusa sebagai mitra perwakilan RI. Pagar Nusa tidak hanya menjadi pilar penting dalam pembinaan keanggotaan dan pengayoman kawan-kawan Pekerja Migran Indonesia (PMI) agar tetap tertib dan berkegiatan positif, tetapi juga menjadi etalase diplomasi budaya Indonesia di Hong Kong,” kata Andi.

Andi menyebut keterlibatan Pagar Nusa dalam Hong Kong Flower Show selama tiga kali berturut-turut turut memperkuat citra positif Indonesia di mata publik internasional dan otoritas lokal. “KJRI Hong Kong berkomitmen penuh untuk memfasilitasi dan mengawal langkah-langkah PB IPSI dan PP Pagar Nusa, dalam inisiasi pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong serta dalam menyukseskan visi besar Pencak Silat Road to Olympics,” ujarnya.

Momentum Hari Batik Nasional

Pertemuan tersebut memiliki momentum khusus karena berlangsung pada 2 Oktober, bertepatan dengan Hari Batik Nasional. Gus Nabil menyerahkan kain batik khas Solo kepada Konjen Andi Ardiansyah. Plakat Pagar Nusa juga diberikan sebagai cenderamata. Menurut Gus Nabil, batik dan pencak silat sama-sama merupakan kekayaan budaya Indonesia yang dapat menjadi jembatan diplomasi dengan masyarakat internasional.

“Pada Hari Batik Nasional, kita menyerahkan batik di Hong Kong sekaligus berbicara tentang masa depan pencak silat dunia. Batik dan pencak silat adalah kekayaan bangsa. Keduanya memiliki bahasa universal yang bisa menjadi jembatan Indonesia dengan masyarakat dunia,” katanya.

Gus Nabil menambahkan, batik diharapkan semakin banyak dikenakan masyarakat dunia, sebagaimana pencak silat diharapkan semakin banyak dipelajari warga berbagai negara. “Dari kebudayaan kita membangun persahabatan. Batik dan pencak silat sama-sama membawa identitas Indonesia ke dunia,” ujarnya.

Lanjutan Konsolidasi dari Taiwan

Kunjungan ke Hong Kong merupakan kelanjutan rangkaian agenda Gus Nabil bersama Pagar Nusa di Taiwan. Pengembangan pencak silat dengan melibatkan masyarakat lokal juga menjadi salah satu perhatian dalam kunjungan tersebut. PP Pagar Nusa dan PB IPSI selanjutnya akan melanjutkan komunikasi dengan PCI Pagar Nusa Hong Kong dan KJRI Hong Kong terkait keterlibatan masyarakat lokal serta inisiasi pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong. Seusai pertemuan resmi di KJRI, rombongan melanjutkan silaturahim dan ramah tamah di Restoran Kampoeng, Causeway Bay, Hong Kong.

Langkah Gus Nabil yang menemui Konjen RI di Hong Kong dan mendorong pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong ini menjadi bukti nyata bahwa diplomasi budaya melalui olahraga tradisional dapat menjadi instrumen efektif dalam memperkuat hubungan bilateral. Selain itu, upaya ini juga sejalan dengan visi besar Pencak Silat Road to Olympics yang membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, termasuk komunitas internasional. Dengan adanya federasi di Hong Kong, diharapkan pencak silat dapat semakin dikenal dan diminati oleh masyarakat luas, tidak hanya di kalangan diaspora Indonesia tetapi juga warga lokal. Pada akhirnya, hal ini akan memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya dunia yang diakui dan dihormati.

Mungkin Anda Suka