Daftar Isi
Realita.ID – BPS Kudus Catat Inflasi 0 32 Persen pada September 2026 Beras Jadi Pemicu Utama. Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kudus melaporkan inflasi bulanan sebesar 0,32 persen pada September 2026. Indeks Harga Konsumen (IHK) mencapai 112,21, sementara inflasi tahunan tercatat 3,16 persen. Kenaikan harga beras dan cabai rawit menjadi penyebab utama tekanan inflasi di wilayah ini.
Kepala BPS Kabupaten Kudus, Eko Suharto, mengungkapkan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan kontribusi dominan. “Inflasi September 2026 di Kabupaten Kudus tercatat sebesar 0,32 persen. Penyumbang utama inflasi secara month-to-month adalah beras dengan andil 0,07 persen, disusul cabai rawit sebesar 0,06 persen. Sementara telur ayam ras dan daging ayam ras masing-masing menyumbang 0,04 persen,” ujarnya saat konferensi pers, Jumat (2/10/2026).
Data BPS menunjukkan bahwa beras menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, diikuti cabai rawit, telur ayam ras, dan daging ayam ras. Namun, harga bawang merah justru memberikan andil deflasi sebesar 0,04 persen, yang sedikit menahan laju inflasi. Eko menambahkan bahwa secara tahunan inflasi Kudus masih perlu dicermati meskipun dinilai terkendali.
Rincian Andil Komoditas terhadap Inflasi
Berikut rincian andil inflasi dari beberapa komoditas utama di Kabupaten Kudus pada September 2026:
| Komoditas | Andil Inflasi (%) |
|---|---|
| Beras | 0,07 |
| Cabai Rawit | 0,06 |
| Telur Ayam Ras | 0,04 |
| Daging Ayam Ras | 0,04 |
| Bawang Merah | -0,04 (deflasi) |
BPS Kudus Catat Inflasi 0 32 Persen pada September 2026 Beras Jadi Pemicu Utama menjadi perhatian serius karena beras merupakan kebutuhan pokok masyarakat. Eko menekankan pentingnya pemantauan pasokan beras, terutama menjelang musim panen. Jika pasokan tidak mencukupi, tekanan harga berpotensi berlanjut.
Sinergi Pemerintah dan Bulog
Untuk menjaga stabilitas harga, Eko mendorong sinergi antara Pemerintah Kabupaten Kudus dan Perum Bulog. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah operasi pasar, khususnya untuk komoditas beras, jika terjadi kenaikan harga yang membebani masyarakat.
“Perlu sinergi dan kolaborasi antara pemerintah kabupaten dan Bulog, terutama untuk melakukan operasi pasar beras. Dengan begitu, ketersediaan pasokan bisa dijaga dan gejolak harga dapat dikendalikan,” tegasnya.
Pemerintah daerah bersama pemangku kepentingan diharapkan terus memperkuat koordinasi agar stabilitas harga tetap terjaga dan target pengendalian inflasi dapat tercapai. Meskipun inflasi masih terkendali, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat fluktuasi harga pangan yang dinamis.
BPS Kudus Catat Inflasi 0 32 Persen pada September 2026 Beras Jadi Pemicu Utama juga menyoroti pentingnya data inflasi sebagai dasar pengambilan kebijakan. Dengan memahami pola kenaikan harga, pemerintah dapat merancang intervensi yang tepat sasaran.
Dampak bagi Masyarakat
Kenaikan harga beras dan cabai rawit tentu berdampak pada daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah. Oleh karena itu, langkah cepat seperti operasi pasar sangat dinantikan. Selain itu, koordinasi lintas sektor diperlukan untuk memastikan pasokan pangan tetap lancar.
Ke depan, BPS akan terus memantau perkembangan harga dan melaporkan secara berkala. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan pembelian berlebihan yang dapat memicu kelangkaan.
Secara keseluruhan, inflasi Kudus pada September 2026 sebesar 0,32 persen mencerminkan dinamika harga pangan yang masih menjadi tantangan. Beras sebagai pemicu utama menuntut perhatian khusus dari semua pihak. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, Bulog, dan masyarakat, stabilitas harga diharapkan dapat terjaga, sehingga kesejahteraan masyarakat tetap terjamin.







