Peristiwa

Siswa di Turi Sleman Yogyakarta Diduga Keracunan MBG, Rasa Bola Daging Aneh, Ortu: Diberhentiin Aja

Siswa di Turi Sleman Yogyakarta Diduga Keracunan MBG, Rasa Bola Daging Aneh, Ortu: Diberhentiin Aja
Siswa di Turi Sleman Yogyakarta Diduga Keracunan MBG, Rasa Bola Daging Aneh, Ortu: Diberhentiin Aja

Realita.ID – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali mencuat. Kali ini, sejumlah siswa di Turi, Sleman, Yogyakarta, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu MBG. Para siswa mengeluhkan rasa bola daging yang aneh, dan orang tua pun geram, menuntut program tersebut diberhentikan. Peristiwa ini menambah daftar panjang insiden serupa di berbagai daerah, termasuk yang terbaru di Lampung Tengah yang menimpa 33 siswa.

Menurut keterangan sejumlah orang tua, anak-anak mereka mulai merasakan gejala tidak nyaman setelah makan siang di sekolah. “Rasa bola dagingnya aneh, tidak seperti biasanya. Anak saya bilang pahit dan berbau tidak sedap,” ujar salah satu orang tua siswa. Keluhan mual, muntah, pusing, dan lemas pun muncul tak lama kemudian. Beberapa siswa terpaksa dilarikan ke puskesmas terdekat untuk mendapatkan perawatan intensif.

Baca juga:

Orang tua yang cemas menuntut evaluasi menyeluruh terhadap program MBG. “Diberhentiin aja kalau tidak bisa menjamin keamanan pangan anak-anak. Kami tidak mau anak kami jadi korban lagi,” tegas seorang ibu dengan nada kesal. Tuntutan ini sejalan dengan meningkatnya kekhawatiran publik terhadap kualitas dan higienitas makanan yang disajikan dalam program tersebut.

Insiden di Turi, Sleman, Yogyakarta ini bukanlah yang pertama. Sebelumnya, pada Kamis (24/9/2026), sebanyak 33 siswa SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Gunung Agung, Kecamatan Terusan Nunyai, Kabupaten Lampung Tengah, juga diduga mengalami keracunan usai menyantap MBG. Gejala yang dialami pun serupa: pusing, mual, muntah, hingga lemas. Kepala Puskesmas Bandaragung, Yunus, menyatakan bahwa pihaknya terus menerima tambahan pasien. “Dari 33 siswa yang mendapat penanganan medis, 22 siswa mengalami gejala ringan dan diperbolehkan rawat jalan,” jelasnya. Sementara itu, tiga siswa masih dirawat inap, dua siswa di UGD untuk observasi, dan empat siswa dengan gejala sedang hingga berat dirujuk ke RS Yukum Medical Center (YMC) Bandarjaya.

Seorang tenaga pendidik di SD Negeri 1 Gunung Agung, Rifai, mengungkapkan bahwa gejala mulai terlihat sekitar pukul 08.30 hingga 09.00 WIB, tak lama setelah siswa menyantap MBG dan meminum susu kemasan. Kejadian ini memicu pertanyaan serius tentang standar keamanan pangan dan pengawasan distribusi makanan dalam program MBG.

Kembali ke kasus Siswa di Turi Sleman Yogyakarta Diduga Keracunan MBG,Rasa Bola Daging Aneh,Ortu: Diberhentiin Aja [titlebase], pihak sekolah belum memberikan pernyataan resmi. Namun, beberapa guru tampak mendampingi siswa yang sakit dan berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat. Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman dikabarkan telah mengambil sampel makanan untuk diuji di laboratorium. Hasil uji tersebut akan menjadi kunci untuk menentukan penyebab pasti keracunan.

Baca juga:

Pemerintah daerah diminta segera turun tangan. Anggota DPRD Sleman, misalnya, mendesak evaluasi total terhadap penyelenggara MBG. “Jika terbukti lalai, sanksi tegas harus diberikan. Jangan sampai program yang bertujuan baik ini malah membahayakan anak-anak,” ujarnya. Sementara itu, Kementerian Kesehatan melalui dinas terkait mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan menunggu hasil investigasi.

Kasus Siswa di Turi Sleman Yogyakarta Diduga Keracunan MBG,Rasa Bola Daging Aneh,Ortu: Diberhentiin Aja [titlebase] ini menjadi sorotan nasional. Publik menuntut transparansi dan akuntabilitas. Banyak yang mempertanyakan mengapa insiden serupa terus berulang. Apakah ada kelalaian dalam proses pengadaan, pengolahan, atau distribusi makanan? Ataukah memang ada masalah sistemik dalam manajemen program MBG?

Di sisi lain, para orang tua di Turi bersikeras agar anak-anak mereka tidak lagi menerima makanan dari program tersebut sampai ada jaminan keamanan. “Kami sudah trauma. Lebih baik bawa bekal sendiri daripada risiko keracunan,” kata seorang ayah. Tuntutan “diberhentiin aja” mencerminkan kekecewaan mendalam terhadap penanganan masalah ini.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai jumlah pasti siswa yang terdampak di Turi. Namun, informasi awal menyebutkan puluhan siswa mengalami gejala. Tim medis masih terus melakukan pemantauan. Sementara itu, sekolah-sekolah lain di Sleman dan sekitarnya diminta waspada dan meningkatkan pengawasan terhadap makanan yang dikonsumsi siswa.

Baca juga:

Insiden ini seharusnya menjadi momentum perbaikan. Program MBG yang digagas untuk meningkatkan gizi anak-anak justru menuai masalah. Diperlukan audit menyeluruh, mulai dari dapur produksi hingga penyajian di sekolah. Selain itu, partisipasi orang tua dalam mengawasi kualitas makanan juga sangat penting. Tanpa perbaikan menyeluruh, kekhawatiran dan penolakan terhadap MBG akan terus meningkat.

Sebagai penutup, kasus dugaan keracunan MBG di Turi, Sleman, Yogyakarta, dengan keluhan rasa bola daging yang aneh dan desakan orang tua untuk menghentikan program, harus menjadi peringatan serius. Kesehatan dan keselamatan anak adalah prioritas utama. Pemerintah dan penyelenggara MBG wajib bertanggung jawab, melakukan investigasi tuntas, dan memastikan tidak ada lagi korban berjatuhan. Jika tidak, kepercayaan publik terhadap program ini akan semakin terkikis.

Mungkin Anda Suka